Kota Jantho, Asatu Online – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menaruh harapan besar terhadap keberadaan Sekolah Rakyat sebagai instrumen strategis memutus mata rantai kemiskinan sekaligus mencetak generasi unggul dan berkarakter.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, Rahmawati, S.Pd., M.Si, mengatakan Sekolah Rakyat hadir untuk menjawab persoalan pendidikan yang selama ini dihadapi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Masih ada anak yang putus sekolah karena faktor ekonomi dan keterbatasan akses. Sekolah Rakyat menjadi solusi agar mereka tetap memperoleh hak pendidikan,” kata Rahmawati dalam Dialog Interaktif RRI Banda Aceh di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 1 Aceh Besar, UPT Sentra Darussa’adah, Kecamatan Darul Imarah, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, angka kemiskinan di Aceh Besar masih berada di kisaran 11 persen. Karena itu, pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menekan angka kemiskinan hingga di bawah satu digit.
Rahmawati menjelaskan, Sekolah Rakyat menerapkan sistem asrama (boarding school) bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Seluruh kebutuhan siswa ditanggung pemerintah, mulai dari seragam, makan, tempat tinggal hingga kebutuhan pendidikan lainnya.
“Tidak ada lagi alasan untuk tidak sekolah. Negara sudah memfasilitasi semuanya. Tinggal bagaimana anak-anak memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Selain mengacu pada kurikulum nasional, Sekolah Rakyat juga menitikberatkan pada pembentukan karakter, kedisiplinan, serta pembinaan mental dan spiritual.
“Anak-anak dibentuk menjadi pribadi yang mandiri, disiplin dan memiliki daya juang tinggi. Kami berharap mereka bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan menjadi generasi unggul,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Aceh Besar, Nuraida, A.KS., M.A, mengatakan proses seleksi peserta dilakukan secara ketat melalui verifikasi dan validasi langsung ke lapangan.
“Peserta berasal dari keluarga desil 1 dan 2. Pendamping sosial turun langsung untuk memastikan kondisi ekonomi dan komitmen keluarga terhadap pendidikan anak,” katanya.
Di sisi lain, Kepala SRMA 1 Aceh Besar, Ilza Satriadi, S.Pd, menyebutkan sebanyak 60 siswa akan menjadi angkatan pertama yang mulai belajar pada Juli 2026.
Untuk sementara, proses belajar mengajar akan berlangsung di SMA 2 Kuta Blang sebelum berpindah ke lokasi permanen yang saat ini progres pembangunannya telah mencapai sekitar 75 persen.
“Tidak hanya fokus pada akademik, Sekolah Rakyat juga membekali siswa dengan keterampilan hidup dan pembentukan karakter. Ini menjadi kekuatan utama program ini,” ujar Ilza. (Marwan)
















