Rosan Roeslani Tegaskan Hilirisasi Jadi Senjata Ekonomi Indonesia di Tengah Guncangan Global

Jakarta, Asatuonline.id – Di tengah tekanan ekonomi global dan perubahan peta perdagangan dunia, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menegaskan bahwa Indonesia harus mempercepat reformasi investasi dan memperkuat hilirisasi industri agar tidak sekadar menjadi pasar, melainkan pemain utama dalam rantai pasok global.

Pernyataan tegas itu disampaikannya dalam Investor Daily Summit (IDS) 2025 yang digelar oleh B-Universe di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (8/10/2025).

“Hilirisasi bukan hanya soal industri, tapi strategi geopolitik ekonomi jangka panjang. Nilai tambah dari setiap produk ekspor harus tumbuh di dalam negeri, bukan dikirim sebagai bahan mentah,” tegas Rosan di hadapan ratusan pelaku usaha, ekonom, dan pejabat publik.

Rosan menekankan, pemerintah kini fokus menarik investasi berkelanjutan — bukan modal yang datang cepat dan pergi cepat — tetapi yang berdampak nyata pada penciptaan lapangan kerja, penguatan industri nasional, dan perbaikan neraca perdagangan.

Ia juga menyoroti sejumlah pekerjaan rumah pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kredibel, antara lain penyederhanaan perizinan, stabilitas regulasi, dan kepastian hukum. “Tanpa itu semua, investasi jangka panjang sulit bertahan,” ujarnya lugas.

Dalam forum yang mengusung tema “New Economic Order” tersebut, Rosan menyebut IDS sebagai wadah strategis yang menyatukan visi antara pemerintah, dunia usaha, dan investor global di tengah transformasi ekonomi dunia. Ia turut mengapresiasi konsistensi Executive Chairman B-Universe Enggartiasto Lukita dan tim Investor Daily dalam menggelar forum yang menajamkan arah kebijakan ekonomi nasional.

“Forum seperti ini bukan hanya bicara investasi, tetapi juga menyatukan pandangan antara pelaku usaha, pembuat kebijakan, dan tantangan global yang kita hadapi bersama,” tambahnya.

Menutup pidatonya, Rosan menegaskan arah besar ekonomi Indonesia ke depan: bertransformasi dari ekonomi berbasis sumber daya menuju ekonomi berbasis nilai tambah, inovasi, dan pengetahuan.

“Masa depan ekonomi kita tidak cukup hanya bergantung pada investasi besar. Kuncinya ada pada kemampuan bangsa mengelola nilai, inovasi, dan efisiensi produksi,” pungkasnya. (*)

Penulis: WahyuEditor: Wd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *