Asen, pedagang di pasar Mentok mengaku suasana pasar Mentok dirasa agak ramai semenjak TI apung Tembelok dibuka (Foto : Rudy Asatu Online)
Mentok, Asatu Online – Aktivitas tambang laut di Perairan Tembelok, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat sudah berlangsung sekitar empat hari terakhir. Meski ilegal, geliat tambang apung ini membawa dampak langsung bagi perekonomian masyarakat sekitar, khususnya pedagang kecil di Pasar Ikan Mentok.
Suasana pasar yang biasanya lengang menjelang siang, kini tampak berbeda. Para pedagang kue, sayur, hingga warung makan mengaku dagangannya laris sejak aktivitas tambang timah apung jenis “user-user” atau TI Sebu kembali bergeliat di Pantai Tembelok.
Sentoji alias Asen, pemilik lapak daging sapi di Pasar Mentok, mengakui peningkatan transaksi sejak tambang Tembelok kembali dibuka. “Terasalah, pasar lebih ramai. Kalau sekarang orang pada beli daging, apalagi kebetulan minggu depan ada acara Maulidan di Pal 9. Jelas bagus lah ada TI Tembelok ini, ekonomi pedagang ikut jalan,” ujarnya, Kamis (18/9/2025).
Hal serupa dialami pedagang kue keliling. Mereka mengaku dagangan selalu habis ketika dibawa ke kawasan Pantai Tembelok. “Alhamdulillah, kalau dulu jarang habis, sekarang selalu laku. Bahkan kue yang sisa pun bisa terjual kembali,” ungkap salah seorang pedagang.
Aktivitas tambang ini ternyata juga membuka peluang kerja serabutan. Ada yang menjadi pemasok makanan ke lokasi tambang, ada pula yang membantu teknis peralatan di laut. Dengan begitu, perputaran uang di Mentok dalam beberapa hari terakhir terlihat meningkat.
Harga timah yang tinggi ikut menambah gairah para penambang. Pasir timah dari Tembelok dijual bebas tanpa adanya lapak resmi dengan kisaran Rp140 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram. “Memang ada potongan 25 persen untuk kampung, tapi tetap terasa untung karena harga timah tinggi dan operasional kecil,” kata salah seorang penambang.
Potongan 25 persen yang dimaksud, menurut warga setempat, bukan sekadar “jatah” tetapi kompensasi bagi masyarakat terdampak. Dana itu disebut-sebut digunakan untuk kebutuhan umum seperti perbaikan jalan di sekitar tambatan perahu nelayan.
“Kalau timah yang didapat kurang dari 7 kilo, dipotong 25 persen. Kalau lebih dari itu, ditambah lagi 1 kilo untuk biaya jalan. Jadi ini bukan pungli, tapi bentuk kompensasi,” jelas seorang perwakilan warga Tembelok.
Namun di balik berkah ekonomi itu, muncul juga dampak negatif yang tidak bisa diabaikan. Aktivitas tambang laut berpotensi merusak ekosistem perairan. Kerusakan terumbu karang dan kekeruhan air bisa mengganggu habitat laut, termasuk biota ikan yang menjadi sumber penghidupan nelayan.
Sejumlah nelayan mengeluhkan tangkapan ikan yang mulai berkurang sejak tambang dibuka. “Kalau laut keruh begini, ikan susah didapat. Kami nelayan kecil jadi terdampak,” kata seorang nelayan yang enggan disebutkan namanya.
Selain itu, konflik kepentingan juga rawan terjadi. Ada nelayan yang memilih ikut menambang karena tergiur keuntungan cepat, namun ada juga yang tetap ingin bertahan mencari ikan. Perbedaan ini bisa menimbulkan gesekan antarwarga.
Tambang ilegal juga kerap memicu masalah hukum. Aparat kerap dihadapkan pada dilema antara menindak pelanggaran atau membiarkan aktivitas demi alasan ekonomi masyarakat. “Ini yang bikin rumit, karena ada sisi hukum yang jelas melarang, tapi masyarakat juga bergantung pada tambang,” ujar seorang pemerhati lingkungan di Mentok.
Di sisi lain, uang cepat dari hasil tambang seringkali tidak diimbangi dengan perencanaan ekonomi keluarga. Banyak penambang yang ketika tambang berhenti kembali kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. “Kalau tambang stop, biasanya ekonomi warga langsung lesu,” tambahnya.
Meski begitu, geliat ekonomi beberapa hari terakhir tidak bisa dipungkiri. Warung kopi, penjual nasi, hingga pedagang sembako di Pasar Mentok mengaku omzet meningkat tajam sejak tambang Tembelok kembali beroperasi.
Dengan kondisi ini, masyarakat berada dalam dilema. Di satu sisi ada berkah ekonomi yang langsung terasa, namun di sisi lain ada ancaman lingkungan dan hukum yang menghantui. Tambang Tembelok sekali lagi memperlihatkan wajah ganda: berkah sekaligus bencana.**















