Caption: Anak buah Jono terpantau sedang membeli timah hasil tambang ilegal (Foto : Ist)
Mentok, Asatu Online – Aktivitas tambang laut di Perairan Tembelok, Kecamatan Mentok, Bangka Barat, kembali bikin heboh. Nama Jono, bos timah asal Parittiga, jadi sorotan setelah anak buahnya terekam cegat penambang dan terang-terangan membeli pasir timah di jalan dengan harga jauh di atas pasaran.
Pantauan awak media, Jono enggan buka suara meski dicoba dikonfirmasi. Sikapnya terkesan bungkam, bahkan dinilai seolah kebal hukum.
Para penambang yang baru pulang dari laut dicegat, pasir timah mereka ditawar Rp170 ribu–Rp180 ribu per kilogram. Harga itu bikin pasar gonjang-ganjing karena jauh di atas standar.
“Saya ngalamin sendiri, boceng pulang dari laut dicegat, langsung ditawar. Tapi saya bilang sudah ada pembeli,” ungkap seorang penambang, Sabtu (13/9/2025).
Seorang penambang lain mengaku senang karena harga tinggi, tapi ragu Jono bisa konsisten.
“Kalau harga segitu terus, bagus. Tapi kami ragu ada maksud lain,” katanya.
Jono disebut punya hubungan dengan grup Agat, kolektor timah besar asal Parittiga. Namun, sumber di lapangan mengaku belum jelas apakah grup tersebut masih aktif bermain.
“Setahu kita itu dulu. Sekarang dak tahu apakah Bos Agat masih jalan apa nggak,” ujar sumber.
Berbeda dari sebelumnya, tambang di Tembelok kali ini murni dikelola penambang dan nelayan. Ratusan TI User beroperasi tanpa panitia, tanpa lapak timbangan, dan tanpa cukong pendana.
Mereka sepakat menyisihkan 25 persen hasil untuk jatah kampung.
“Kalau Rp170 ribu per kilo, itu nggak masuk akal. Bisa jadi kelompok ini mau main harga dan bikin kacau pasar,” sindir seorang pemain timah di Mentok.
Saat dikonfirmasi, Jono tak menampik anak buahnya membeli pasir timah di Tembelok.
“Iya Bang, tolong dibantu Bang,” singkat Jono.
Namun, ia memilih bungkam soal detail: berapa ton yang dibeli, dijual ke siapa, berapa harganya, hingga koordinasi dengan aparat penegak hukum (APH).
Umumnya harga pasir timah di Mentok berada di kisaran Rp40 ribu–Rp140 ribu per kilogram, tergantung kadar Sn. Di IUP PT Timah, harga mitra ada di kisaran Rp60 ribu–Rp100 ribu.
Meski begitu, kadar pasir timah Tembelok dan pesisir Laut Keranggan diakui lebih bagus.
Terlepas dari kontroversi harga, sistem TI Sebu (user-user) di tambang Tembelok dianggap mendongkrak ekonomi warga. Warung, pasar, UMKM, hingga hiburan kembali hidup.
Tak cuma di Tembelok, tambang lain juga mulai aktif. Ada PIP di Tanah Merah, Pantai Enjel Desa Air Putih, Laut Jungku, hingga Selindung yang dikelola mitra PT Timah. Tambang darat di HGU PT GSBL Desa Belo Laut pun sudah jalan.
“Mudah-mudahan ekonomi kita bangkit lagi. Jangan aparat cuma bisa razia, tapi juga ngerti kondisi susah sekarang,” kata warga. **















