Mentok, Asatu Online – Warga Dusun Tembelok, Kecamatan Mentok, Bangka Barat, geram dengan aktivitas Tambang Inkonvensional (TI) apung yang beroperasi pada malam hari di perairan setempat. Mereka meminta panitia tambang laut Tembelok segera menertibkan aktivitas itu karena dianggap menyalahi kesepakatan dan tidak memberikan kompensasi sebagaimana yang telah dijanjikan.
Keresahan warga mencuat dalam rapat yang digelar di salah satu rumah warga, Selasa (11/11/2025). Pertemuan itu dihadiri sejumlah warga dan nelayan Tembelok yang merasa dirugikan oleh aktivitas tambang malam hari.
Salah seorang warga menyebut, TI apung yang beroperasi malam hari justru dikendalikan oleh oknum tertentu yang memungut setoran Rp 300 ribu per ponton dengan dalih memberikan “jaminan aman”.
“Waktu kami turun ke lokasi, ada orang tinggi kurus yang ngaku bisa ngatur. Satu ponton disuruh setor Rp 300 ribu supaya aman kerja malam. Cara begini kan jelas enggak benar,” ungkap seorang warga dalam rapat, disambut geram peserta lainnya.
Ketua Nelayan Tembelok, Ali, yang turut hadir dalam rapat tersebut lebih banyak mendengar aspirasi warga dan mencatat berbagai keluhan yang disampaikan. Menurutnya, aktivitas TI apung belakangan semakin tak terkendali, termasuk beroperasi di luar jam yang disepakati.
“Padahal ada sekitar 40 sampai 50 unit TI apung yang beroperasi di laut sini. Sekarang malam pun mereka tetap kerja, alasannya karena arus laut lebih tenang dan air sedang surut,” ujar Ali.
Ali menegaskan, aktivitas malam hari itu merugikan warga dan nelayan karena kompensasi yang diterima tidak sesuai dengan kesepakatan awal. “Sudah seminggu lebih TI ini jalan, tapi hasil kompensasinya enggak jelas. Panitia harus tegas, jangan sampai ada yang main belakang,” tegasnya.
Warga juga khawatir aktivitas tambang malam dapat memicu konflik horizontal antara nelayan dan penambang, mengingat beberapa titik tangkapan ikan kini terganggu akibat aktivitas TI apung yang tak kenal waktu.
Sejumlah peserta rapat mendesak panitia tambang laut Tembelok segera turun tangan untuk menghentikan operasi malam hari dan menindak tegas oknum yang diduga menjadi “pengatur bayangan” tambang ilegal tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, rapat masih berlanjut dengan agenda mendengarkan penjelasan dari pihak panitia tambang laut Tembelok terkait keluhan warga dan dugaan adanya pungutan liar di lapangan. (*)















