SPBU 24.331.148 Kurau Diduga Jadi Sarang Pengerit BBM, Pertamina Diduga Tutup Mata

Caption : Penampakan pengerit sedang melakukan aksinya di SPBU 24.331.148 Kurau, Rabu (15/10/2025).

Bangka, Asatu Online — Aktivitas mencurigakan kembali terpantau di SPBU 24.331.148 Kurau, Desa Kurau Kecamatan Namang Kabupaten Bangka Tengah. Sejumlah kendaraan roda dua dan roda empat terlihat hilir mudik mengisi bahan bakar jenis Pertalite secara berulang. Indikasi kuat menunjukkan bahwa SPBU ini menjadi titik pengumpulan bagi praktik pengeritan BBM bersubsidi.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu siang, 15 Oktober 2025, sekitar pukul 14.00 WIB. Beberapa pengendara dengan leluasa melakukan pengisian bahan bakar berkali-kali, bahkan secara terang-terangan menampung Pertalite ke dalam jeriken yang disembunyikan di dalam kendaraan.

Yang lebih mengherankan, aksi tersebut berlangsung tanpa adanya tindakan tegas dari petugas SPBU. Para pegawai justru tampak berdiri di sekitar area pengisian dan seolah menutup mata terhadap aktivitas yang jelas melanggar aturan.

Situasi ini menimbulkan dugaan adanya pembiaran sistematis. Pengawasan di SPBU seakan hanya bersifat formalitas, sementara praktik ilegal tersebut terus berlangsung di depan mata aparat dan masyarakat.

Beberapa pengerit terlihat datang menggunakan kendaraan yang sama secara bergantian. Setelah mengisi, mereka meninggalkan area SPBU hanya untuk kembali lagi dalam waktu singkat. Pola ini memperkuat dugaan bahwa SPBU 24.331.148 menjadi tempat pengumpulan BBM subsidi untuk kemudian dijual kembali di luar harga resmi.

Seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengaku aktivitas seperti ini sudah terjadi sejak lama. “Sudah lama begitu, tiap hari ada yang ngisi berkali-kali. Kadang sampai stoknya habis siang hari. Petugas SPBU juga tahu, tapi diduga kongkalikong,” ujarnya kepada Asatu Online.

Warga lain juga mengungkapkan bahwa maraknya pengeritan semakin menjadi sejak harga BBM nonsubsidi naik. “Banyak yang manfaatin celah, apalagi kalau pengawas dari Pertamina jarang turun. Mereka bisa untung besar dari jualan kembali Pertalite ini,” ucapnya.

Padahal, aturan pembelian BBM bersubsidi sudah diatur jelas. Pertalite diperuntukkan bagi masyarakat umum sesuai kebutuhan harian, bukan untuk dijual kembali. Namun di SPBU Kurau ini, ketentuan itu tampak diabaikan begitu saja.

Wartawan senior, Suherman Saleh, menilai lemahnya pengawasan menjadi akar persoalan. Ia menilai ada kemungkinan keterlibatan oknum di lapangan. “Kalau Pertamina tegas, tidak mungkin pengerit bisa isi sendiri ke mobil tanpa dilayani petugas nozzle. Ini indikasi bahwa ada permainan,” ujarnya menegaskan.

Fenomena pengeritan ini tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menekan masyarakat kecil. Stok BBM subsidi kerap cepat habis sehingga antrean panjang hampir selalu terjadi di SPBU tersebut.

“Kadang kami yang mau isi buat kerja malah nggak kebagian karena sudah diambil duluan sama pengerit. Ini jelas merugikan,” keluh seorang pengendara mobil yang lewat sedang kehabisan BBM.

Hingga berita ini diterbitkan, pengelola SPBU 24.331.148 Kurau belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi Asatu Online kepada pengawas dan operator tidak membuahkan hasil lantaran tidak ada staf yang dapat ditemui di lokasi.

Sementara itu, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel juga belum berhasil dikonfirmasi terkait dugaan pembiaran tersebut. Sikap diam Pertamina justru memperkuat persepsi publik bahwa ada kelengahan serius dalam pengawasan distribusi BBM bersubsidi di lapangan.

Masyarakat mendesak aparat penegak hukum, termasuk kepolisian dan pemerintah daerah, untuk turun tangan melakukan penertiban. Penindakan tegas dinilai mutlak dilakukan agar praktik pengeritan tidak terus berulang dan merugikan rakyat kecil.

Jika dibiarkan, SPBU seperti ini hanya akan menjadi simbol gagalnya tata kelola distribusi BBM bersubsidi di daerah. Warga pun berharap Pertamina benar-benar memastikan keadilan energi, bukan sekadar menjadikannya slogan tanpa tindakan nyata. (*)

Penulis: Ilham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *