Kunci Tambang Laut Tembelok Tertib: Jangan Ada Lapak Penimbangan!

Caption ; Edi Warsito, SH (Foto : Ist)

Mentok, Asatu Online– Aktivitas tambang laut di Perairan Tembelok, Kecamatan Mentok, Bangka Barat, kembali dibuka. Sudah tiga hari beroperasi, situasi di lapangan terpantau kondusif tanpa gesekan antarpenambang, nelayan, maupun warga sekitar.

Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Bangka Belitung, Edy Warsito SH, menilai kondusifnya tambang Tembelok karena pengelolaan dilakukan langsung oleh masyarakat sekitar, bukan pihak luar.

“Keuntungannya jelas. Dari hasil timah, 25 persen disisihkan untuk kampung. Sisanya bebas dijual penambang dengan harga terbaik,” kata Edy kepada wartawan, Selasa (16/9/2025).

Menurutnya, pola ini lebih sehat karena tidak menimbulkan spekulan, salah tafsir, atau kecemburuan sosial. Berbeda dengan sebelumnya saat pengelolaan dilakukan panitia dengan membuka lapak penimbangan yang didanai pihak tertentu.

“Lapak penimbangan itu hanya bikin masalah. Bisa memecah belah masyarakat, memicu kecurigaan antarpanitia, bahkan bikin sesama media ribut karena kecemburuan sosial. Media yang dianggap dekat dirangkul, sementara mayoritas media lokal di Mentok justru ditinggalkan,” tegas Edy.

Edy mengingatkan, praktik seperti itu sebaiknya dihentikan. Ia menilai, cukup masyarakat yang mengelola tambang dan langsung mendapatkan manfaat ekonominya.

Lebih jauh, ia mendorong pemerintah daerah segera mengajukan peta Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) untuk Bangka Barat. Dengan begitu, tambang rakyat bisa dijalankan secara legal sesuai amanat peraturan.

“Bangka Barat itu salah satu daerah dengan IUP terbesar. Jadi wajar kalau masyarakat berharap ada WPR. Kalau legal, masyarakat bisa menambang dengan aman dan ekonomi daerah juga bergerak,” ujarnya.

Edy juga mengakui, aktivitas tambang rakyat memang menyumbang geliat ekonomi meski secara hukum masih abu-abu. Karena itu, menurutnya perlu ada kebijakan bijak dari pemda dan aparat hukum untuk memahami kondisi riil masyarakat.

“Harapan kita jelas: tambang tetap kondusif, jangan ada lapak penimbangan. Biarkan masyarakat yang mengelola. Ekonomi yang lama mati suri bisa bangkit kembali,” pungkas Edy.**

Penulis: Rudy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *