Sungailiat, Asatu Online – Proyek perbaikan jalan nasional di Kelurahan Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, menuai sorotan tajam dari masyarakat. Pasalnya, dalam kurun waktu hampir setahun, perbaikan jalan hanya sekitar 100 meter itu tidak terealisasi.
Warga menilai kinerja Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Bangka Belitung sangat memalukan. Alih-alih menyelesaikan kerusakan jalan, proyek yang digarap sejak awal tahun itu justru menyisakan masalah baru bagi pengguna jalan.
Menurut pantauan di lapangan, badan jalan yang semula rusak semakin parah setelah digali menggunakan alat berat. Namun, pengerjaannya tidak kunjung diselesaikan. Kondisi itu membuat permukaan jalan penuh lubang dan bergelombang sehingga sangat membahayakan pengendara.
Lebih miris lagi, masyarakat mengaku tidak pernah melihat papan informasi proyek yang biasanya wajib dipasang di lokasi pekerjaan. Hal itu menimbulkan tanda tanya besar, apakah proyek dikerjakan secara swakelola oleh BPJN atau melibatkan pihak ketiga melalui kontraktor.
“Sudah hampir setahun jalan ini digali,cuma 100 meter yang diperbaiki. Kami tidak tahu siapa yang mengerjakan karena tidak ada papan proyek. Ini sangat tidak transparan,” ungkap Roni, warga Sungailiat, Jumat (22/8/2025).
Jalan Kenanga yang rusak itu merupakan akses vital yang menghubungkan Kota Sungailiat dengan Pangkalpinang. Setiap hari ribuan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, melintas di jalur tersebut. Kondisi jalan yang terbengkalai pun memicu keresahan masyarakat.
Banyak pengendara mengaku harus ekstra hati-hati saat melintas, terutama di malam hari ketika penerangan jalan terbatas. Tidak sedikit pula pengendara motor yang hampir celaka karena terperosok ke lubang jalan.
“Kalau ada kecelakaan akibat jalan ini, pemerintah daerah maupun BPJN harus bertanggung jawab. Jangan sampai masyarakat jadi korban karena kelalaian mereka,” tegas Andi, warga lainnya.
Kondisi jalan yang dibiarkan rusak berbulan-bulan juga memicu kemacetan, terutama pada jam sibuk. Kendaraan besar seperti truk dan bus kerap terjebak di titik jalan yang bergelombang, sehingga memperparah arus lalu lintas.
Selain itu, debu dari jalan yang digali membuat warga sekitar terganggu. Saat musim hujan, kondisi menjadi lebih parah karena jalan berubah menjadi kubangan lumpur, menimbulkan licin dan rawan kecelakaan.
Masyarakat menilai, lambannya perbaikan jalan ini mencerminkan buruknya manajemen proyek di bawah BPJN Babel. Mereka menuntut agar Kementerian PUPR turun tangan langsung mengevaluasi kinerja balai jalan tersebut.
“Ini kan jalan nasional, bukan jalan kampung. Masa perbaikannya cuma segitu-segitu saja. Kalau dibiarkan, bisa-bisa setahun lagi pun belum selesai,” keluh warga.
Sejumlah tokoh masyarakat Sungailiat bahkan menilai proyek tersebut terindikasi asal-asalan dan tidak memiliki perencanaan matang. Mereka mendesak aparat penegak hukum ikut mengawasi, agar tidak terjadi penyalahgunaan anggaran dalam pengerjaannya.
Jika dibiarkan berlarut-larut, masyarakat mengancam akan menggelar aksi protes ke kantor BPJN Babel. Tuntutan utama mereka adalah percepatan perbaikan jalan dan transparansi pelaksanaan proyek yang kini menuai banyak kecurigaan.
Kini, sorotan publik pun tertuju pada BPJN Babel. Apakah mereka mampu menyelesaikan pekerjaan perbaikan jalan Sungailiat–Pangkalpinang ini dengan tuntas, atau justru semakin memperburuk citra pelayanan infrastruktur pemerintah pusat di daerah.















