Jakarta, Asatu Online – Tekanan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat sepanjang 2025 menjadi pukulan berat bagi industri properti nasional. Kondisi tersebut turut dirasakan PT Kentanix Supra International Tbk yang mencatat penurunan kinerja signifikan, meski tetap menunjukkan optimisme menghadapi tahun 2026 melalui sejumlah langkah strategis.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar di Jakarta, manajemen mengungkapkan bahwa hingga akhir 2025 perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp132 miliar dengan total aset mencapai Rp1,3 triliun. Laba usaha tercatat sekitar Rp81 miliar, sementara laba tahun berjalan mencapai Rp20 miliar.
Perseroan bersama anak usahanya saat ini mengelola dua segmen bisnis utama, yakni real estate yang berkontribusi sekitar 96 persen terhadap total pendapatan dan wahana air sebesar 4 persen. Sejumlah proyek yang masih aktif dikembangkan berada di kawasan Bogor, Cileungsi, Jonggol, Cirebon, serta beberapa wilayah perumahan lainnya.
Direktur PT Kentanix Supra International Tbk menjelaskan bahwa penurunan kinerja pada 2025 dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari melemahnya daya beli masyarakat yang menjadi target pasar rumah kecil dan menengah, meningkatnya biaya konstruksi, hingga berkurangnya jumlah konsumen yang memenuhi syarat memperoleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
“Kami juga menghadapi tingginya tingkat penolakan pengajuan KPR oleh perbankan yang mencapai sekitar 50 persen dari total pengajuan. Selain itu, persaingan yang semakin ketat dengan pengembang lain yang menawarkan produk serupa di lokasi berdekatan dengan harga kompetitif turut memengaruhi penjualan,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Secara keseluruhan, pendapatan perseroan sepanjang 2025 turun sekitar 42 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut berdampak langsung pada laba usaha yang merosot hingga 75 persen dan laba tahun berjalan yang terkoreksi sekitar 69 persen.
Meski demikian, perseroan tetap melakukan ekspansi dan memperkuat basis asetnya. Total aset perusahaan meningkat sekitar 13 persen, didorong oleh penambahan lahan dalam pengembangan di wilayah Bogor senilai Rp22 miliar serta investasi tambahan sekitar Rp25 miliar di kawasan Jonggol untuk memperluas cadangan lahan (land bank).
Penguatan aset juga ditopang oleh dana hasil Penawaran Umum Perdana Saham IPO (Initial Public Offering) yang dilaksanakan pada 8 Januari 2025. Dari aksi korporasi tersebut, perseroan berhasil menghimpun dana sekitar Rp141 miliar yang turut memperkuat struktur permodalan dan ekuitas perusahaan.
Di sisi lain, kewajiban perusahaan berhasil ditekan sekitar 19 persen, terutama melalui pelunasan utang jangka pendek kepada pihak ketiga. Sementara itu, ekuitas meningkat sekitar 13 persen sebagai dampak positif dari tambahan modal hasil IPO.
Memasuki 2026, tantangan belum mereda. Pada kuartal pertama tahun ini, pendapatan usaha perseroan tercatat sebesar Rp10,2 miliar atau turun sekitar 71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Manajemen menilai kondisi tersebut masih dipengaruhi lemahnya daya beli masyarakat, kebijakan moneter yang relatif ketat, serta ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang berdampak terhadap sektor properti nasional.
Untuk menjaga keberlanjutan bisnis, perseroan akan mengoptimalkan proyek-proyek yang sedang berjalan di Cileungsi, Bogor, Jonggol, dan Cirebon. Selain itu, perusahaan juga menyiapkan strategi diversifikasi produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar serta mempercepat perputaran aset dan persediaan.
Ke depan, Kentanix Supra International Tbk juga tengah menyiapkan sejumlah proyek pengembangan baru yang akan direalisasikan dalam tiga tahun mendatang. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat fundamental perusahaan sekaligus menjadi motor pemulihan kinerja di tengah tantangan industri properti yang masih membayangi. (*)














