Sekolah Perempuan Dibom, 57 Siswi Tewas: Serangan Israel–AS ke Iran Tindakan Terkutuk dan Biadab

Minab, Iran, Asatu Online— Dunia kembali diguncang kabar memilukan dari Iran. Sebuah sekolah dasar khusus perempuan di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, dihantam serangan yang disebut dilakukan oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat.

Sedikitnya 57 siswi dilaporkan tewas. Enam puluh lainnya luka-luka. Puluhan anak masih tertimbun reruntuhan.

Sekolah Shajareye Tayabeh menjadi sasaran langsung. Bukan pangkalan militer. Bukan markas senjata. Tapi sekolah dasar khusus anak perempuan.

Pejabat Kota Minab, Mohammad Radmehr, mengonfirmasi kepada kantor berita resmi Islamic Republic News Agency (IRNA) bahwa serangan tersebut terjadi pada Sabtu (28/2).

“Sejumlah siswi dinyatakan gugur sebagai martir akibat serangan tersebut,” ujarnya.

Radmehr menyebut 53 siswi masih terjebak di bawah reruntuhan. Operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung.

Bayangkan. Anak-anak kecil. Berseragam sekolah. Duduk di ruang kelas pada siang hari. Lalu bom dijatuhkan.

Jika laporan ini benar, maka serangan terhadap sekolah dasar perempuan adalah tindakan terkutuk dan biadab.

Dalam hukum humaniter internasional, sekolah adalah objek sipil yang dilindungi. Anak-anak adalah pihak yang paling tidak boleh disentuh dalam konflik bersenjata.

Namun di Minab, yang hancur bukan hanya bangunan. Masa depan ikut terkubur.

Serangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik regional setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan aksi militer terhadap Iran pada Sabtu dini hari.

Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan serangan ke wilayah pendudukan Israel dan pangkalan militer Amerika di kawasan, menggunakan rudal balistik dan drone.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, melalui akun media sosialnya menegaskan bahwa bangunan yang dihancurkan adalah sekolah dasar perempuan.

“Sekolah ini dibom pada siang hari, ketika dipenuhi murid-murid kecil. Puluhan anak tak berdosa telah dibunuh hanya di lokasi ini saja,” tulisnya.

Ia menambahkan, kejahatan terhadap rakyat Iran tidak akan dibiarkan tanpa balasan.

Serangan tersebut juga terjadi setelah perundingan Iran–AS di Jenewa gagal mencapai kesepakatan. Sebelumnya, Araghchi dijadwalkan bertemu utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dalam putaran negosiasi terkait isu nuklir dan peluang investasi.

Iran bahkan disebut sempat menawarkan peluang ekonomi, termasuk pengembangan ladang minyak dan gas, jika sanksi dilonggarkan.

Namun diplomasi runtuh. Dan yang menjadi korban adalah anak-anak.

Apa pun dalih geopolitiknya, menyerang sekolah dasar perempuan tidak bisa dibenarkan.

Tidak ada argumen strategis yang mampu menghapus fakta bahwa puluhan anak tewas.

Tidak ada kepentingan keamanan yang dapat membenarkan darah siswi yang tumpah di ruang kelas.

Serangan terhadap fasilitas pendidikan sipil adalah pelanggaran berat nilai kemanusiaan. Jika benar terbukti, dunia internasional tak boleh diam.

Hari ini, Minab berduka.

Dan dunia dihadapkan pada pertanyaan moral paling mendasar: sampai di mana konflik kekuasaan boleh mengorbankan anak-anak?

Jika sekolah saja tak lagi aman, maka peradaban sedang berada di titik nadirnya. (*)

Penulis: A1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *