Babel  

Gubernur Hidayat Arsani, Wagub Hellyana, dan Partitur Orkestra  

Opini

Oleh: Rudy, S.T. (Wartawan Senior)

Pangkalpinang, Asatu Online – Belum genap dua bulan sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 17 April 2025, duet kepemimpinan Gubernur Hidayat Arsani dan Wakil Gubernur Hellyana di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah diterpa isu keretakan. Media lokal ramai menyorot kesan timpangnya sorotan pemberitaan yang hanya terfokus pada Hellyana.

Kritik pun mengarah ke Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kominfo Babel saat itu, Adhari, yang dinilai gagal menjalankan fungsi koordinatif dan komunikatif. Salah satu kritik paling tajam datang dari Anggota DPRD Babel, Rina Tarol. Ia menilai Adhari tak memahami karakter kerja Gubernur Hidayat Arsani yang dikenal anti-protokoler dan lebih senang bekerja langsung di lapangan. Tak lama berselang, Adhari digantikan oleh Sekretaris Dinas Kominfo, Gusdinar.

Isu kerenggangan antara Gubernur dan Wakil Gubernur ini tampaknya lebih tepat disebut sebagai miskomunikasi daripada konflik. Hidayat Arsani adalah politisi sekaligus pengusaha ulung. Ritme kerjanya cepat, lugas, dan kadang tak lazim dalam pakem birokrasi. Di dunia usaha, ia dikenal sebagai pionir. Ia memperkenalkan budidaya udang tambak, mengembangkan sektor pertambangan timah, membangun rumah sakit dan sekolah, hingga mendirikan surat kabar Rakyat Pos. Julukannya, “Panglima”, bukan tanpa alasan—ia dikenal tegas, visioner, dan berani mengambil keputusan besar.

Sifat kepemimpinan Hidayat yang ceplas-ceplos kadang membuatnya disalahpahami. Namun bagi yang memahami, gaya bicara blak-blakan itu adalah cambuk motivasi. Kini, gaya khas itu ia bawa ke ranah birokrasi, yang notabene sarat aturan dan protokol. Ia lebih suka mengajak Forkopimda turun langsung ke lapangan ketimbang duduk rapat berjam-jam. Salah satu langkah strategisnya adalah mengurai masalah Alur Muara Jelitik yang selama ini menyulitkan nelayan, serta menginisiasi rencana pembangunan pelabuhan baru di kawasan eks PT Kobatin, Bangka Tengah.

Namun seperti sebuah orkestra, sehebat apapun konduktor—atau dalam hal ini gubernur—tanpa harmoni dari para pemain musik, simfoni tak akan utuh. Dalam musik orkestra, partitur menjadi panduan utama. Semua pemain harus tunduk pada aturan itu, tak bisa bermain sesuka hati. Begitu pula dalam pemerintahan.

Gubernur boleh punya banyak ide, tetapi jika Organisasi Perangkat Daerah (OPD), DPRD, hingga elemen masyarakat tidak bergerak dalam satu irama, maka kebijakan hanya jadi wacana. Harmoni itulah yang kini coba disusun kembali. Plt Kepala Dinas Kominfo yang baru, Gusdinar, diharapkan mampu menjadi konduktor baru yang menyelaraskan nada-nada sumbang menjadi simfoni yang merdu.

Kepemimpinan adalah soal irama. Hidayat Arsani mungkin penyanyi utama dengan suara kuat dan penuh daya. Tapi lagu tak akan sampai ke hati bila tak ada iringan musik yang seimbang. Komunikasi publik yang efektif, koordinasi antarlembaga yang solid, serta kesadaran kolektif untuk taat pada “partitur” regulasi menjadi syarat utama.

Taylor Swift pernah berkata, “No matter what happens in life, be good to people. Being good is a wonderful legacy to leave behind.” Dalam konteks ini, kebaikan bukan hanya soal perilaku personal, tetapi bagaimana menciptakan kerja sama yang sehat dan harmonis demi kemaslahatan publik.

Semoga duet Gubernur Hidayat Arsani dan Wagub Hellyana bisa mengantarkan Bahtera Babel menuju dermaga kesejahteraan. Lagu telah digubah, partitur telah tersedia. Kini saatnya semua pihak memainkan peran, agar simfoni kepemimpinan ini mengalun indah hingga akhir masa jabatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *