Hendry Ch Bangun (Foto : Ist)
Oleh Hendry Ch Bangun (FWK)*
Asatu Online – Saya tidak tahu bagaimana perasaan Presiden Prabowo Subianto ketika bersama Tim Indonesia mengangkat trofi Piala FIFA ASEAN di depan puluhan ribu hadirin di Stadion Gelora Bung Karno, Senin (5/10) malam. Tetapi di layar televisi semua terlihat terharu dan bangga.
Pastilah dia bangga karena kemenangan melalui adu penalti 4-2 setelah bermain 2-2 itu menorehkan sejarah. Untuk pertama kalinya Indonesia menjadi juara sepakbola di kawasan Asia Tenggara setelah 35 tahun. Jutaan rakyat juga bangga, khususnya yang menyaksikan siaran langsung dari berbagai pelosok negeri.
Melalui media massa dan media sosial, kita mengetahui nobar dilakukan di mana-mana. Begitu Emil Audero Mulyadi berhasil menepis bola pemain Thailand pada kesempatan keempat, meledaklah kegembiraan. Mereka melompat, berteriak, bersalaman, berpelukan. Ribuan orang bahkan bersepeda motor berkeliling kota meluapkan rasa bahagia.
Kita memang sudah terlalu lama menunggu. Ketua Umum PSSI Erick Thohir sudah mencoba berbagai resep, termasuk menggunakan pemain keturunan Indonesia yang bermain di liga Eropa. Entah sudah berapa banyak pelatih asing didatangkan dari Eropa maupun Asia. Akhirnya John Herdman menikmati manisnya piala kemenangan.
Dari sisi lain tentu akan ada kritik bahwa kemenangan ini bukan hasil pembinaan asli Indonesia, belum mencakup pemain lokal bertalenta bagus dan berbiaya mahal karena harus mengongkosi pemain Eropa datang dan bermain untuk tim nasional.
Okelah. Tetapi singkirkan itu dulu. Mari nikmati kegembiraan ini.
Piala FIFA ASEAN membuat hati puluhan juta warga Indonesia berbunga-bunga. Mereka bermimpi indah. Mereka bekerja Selasa pagi dengan penuh semangat meskipun mungkin terkantuk-kantuk. Khususnya mereka yang keluar uang menonton langsung di GBK, mengunggah status media sosial dengan seragam Merah Timnas berlatar suasana stadion, tentu membanggakan tiada tara.
Inilah salah satu hasil positif olahraga. Ada harga diri yang naik, ada perasaan senang yang sulit dibandingkan dengan materi atau uang. Khususnya ketika berbagai persoalan sehari-hari membuat pikiran buntu dan kepala mau pecah.
Stadion Gelora Bung Karno dan kompleks olahraga Senayan, yang dibangun pada 1962 untuk menyambut Asian Games IV, sejatinya merupakan petunjuk sejarah paling nyata bagaimana Presiden Soekarno berusaha menjadikan olahraga sebagai kebanggaan bangsa.
Indonesia yang nonblok, tidak ingin terpengaruh Blok Barat Amerika Serikat-Inggris maupun Blok Timur Uni Soviet, mau mandiri dan unjuk gigi.
Dengan mendatangkan pelatih dari Eropa dan memberikan pelatihan internasional, Indonesia sukses menduduki peringkat kedua di bawah Jepang. Sebanyak 11 medali emas dihasilkan, antara lain oleh Mohammad Sarengat, Hendrick Brooks, Aming Priyatna, Wahyu Wahdini, Hasyim Rusli, Lanny Gumulya, Tan Joe Hok, Minarni, Minarni/Retno Kustijah serta tim bulutangkis putra dan putri.
Indonesia tidak hanya menjadi pemimpin yang disegani di dunia politik dengan Bung Karno sebagai tokoh Gerakan Non-Blok bersama Chou En Lai, Gamal Abdul Nasser, Joseph Broz Tito dan Nehru, tetapi juga berjaya di olahraga.
Indonesia bahkan melangsungkan Games of New Emerging Forces (Ganefo), setelah absen di Olimpiade Tokyo, walaupun akhirnya hanya terselenggara dua kali karena berbagai masalah.
Di level berbeda, Indonesia bergabung dalam pesta olahraga Asia Tenggara SEA Games pada 1977, setelah sebelumnya bernama South East Asia Peninsula Games (SEAP Games), dan langsung menjadi juara umum hingga terhenti pada 1985 di Bangkok.
Program Presiden Soeharto, “Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”, terbukti menciptakan pembinaan olahraga berjenjang di seluruh Indonesia.
Ada puluhan pusat latihan daerah, kejuaraan mulai tingkat sekolah, perguruan tinggi, banyak kejuaraan junior dan Sekolah Olahraga Ragunan. Atlet muda tidak ragu hijrah ke Jakarta, berlatih pagi dan sore sekaligus bersekolah sebagai bekal menjadi mahasiswa.
Saat itu pemerintah menjadikan olahraga bagian penting untuk membangun semangat dan karakter bangsa.
Ada yang mengatakan hal itu sengaja dilakukan Orde Baru agar rakyat sibuk dan tidak terbawa masuk ke dunia politik. Tidak salah. Tetapi di sisi lain, pada masa itu pula bangsa Indonesia bangga karena berkali-kali menjadi juara Piala Thomas dan Uber, menjadi negara nomor satu di Asia Tenggara, dan untuk pertama kali merebut medali emas Olimpiade Barcelona 1992 setelah medali perak di Seoul 1988.
Keberhasilan mendapatkan lima medali emas di Asian Games Aichi-Nagoya melalui cabang angkat besi, panahan, panjat tebing, ganda putra dan beregu putra bulutangkis menunjukkan pembinaan olahraga Indonesia berada di jalur yang tepat, terutama cabang olimpik yang dipertandingkan di Olimpiade.
Termasuk medali perak dan perunggu dari menembak, dayung, voli pantai, panahan, bulutangkis dan balap sepeda.
Atletik dan renang belum berhasil membawa pulang medali, tetapi peringkat mereka di Asian Games 2026 menjanjikan. Apabila ditangani dengan tepat, empat tahun mendatang peluang mereka sangat besar.
Menjadi terbaik membutuhkan waktu panjang, baik melalui latihan intensif maupun tampil dalam kejuaraan internasional.
Evaluasi kontingen Indonesia di Asian Games 2026 harus membuat Kementerian Pemuda dan Olahraga menyusun rekomendasi pembinaan berkelanjutan kepada induk organisasi olahraga. Dibuat peta jalan, disiapkan anggaran dan pelatnas multiyears.
Kalau dulu ada cabang olahraga prioritas, sudah saatnya KONI sebagai koordinator membuat garis batas tegas: mana yang sangat penting, penting dan kurang penting. Mana yang dibiayai penuh, mana subsidi dan mana pembiayaan mandiri.
Kondisi keuangan negara yang belum bisa memberikan anggaran maksimal membuat kita harus berani membuat pilihan.
Di sinilah pula peran pers, agar terus mengawal pembinaan olahraga supaya berada di jalur yang benar. Bukan soal like dan dislike. Bukan soal pembinanya orang penting, berpengaruh atau sekadar pengusaha.
Walaupun pengaruh media massa berkurang karena makin masifnya informasi media sosial, kebenaran harus tetap diungkapkan sebagai bentuk kontrol agar olahraga tidak berjalan seperti lagu, serong ke kanan, sering ke kiri, tergantung selera.
Sukses Tim Indonesia merebut Piala FIFA ASEAN dan keberhasilan melampaui target perolehan medali emas di Asian Games Aichi-Nagoya menunjukkan kita bangsa juara.
Kita bisa menang dan berhasil kalau pelaku olahraga bekerja sungguh-sungguh sampai titik darah penghabisan. Masyarakat memberikan dorongan dan kontribusi agar atlet dan pelatih termotivasi memberi pencapaian terbaik. Pemerintah sebagai pengayom memberikan dukungan anggaran, yang bisa dibantu swasta, sesuai kebutuhan.
Kesuksesan di bidang olahraga juga kesuksesan bangsa dan negara.
Mari bahu-membahu untuk kejayaan Indonesia. Merdeka.
Ciputat, 6 Oktober 2026















