Hendry Ch Bangun (Foto : A1)
Catatan Hendry Ch Bangun, FWK
Asatu Online — Manusia boleh merencanakan. Tetapi pada akhirnya, semua terjadi atas kehendak-Nya.
Kita semua memahami adagium itu. Namun, dalam kesibukan mengejar target dan memastikan semua berjalan sesuai rencana, manusia sering lupa bahwa tidak seluruh keadaan berada dalam kendalinya.
Perencanaan matang bukan jaminan semuanya berjalan sempurna. Selalu ada celah yang tidak mampu dihitung manusia.
Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu contohnya.
Puluhan ribu penumpang harus menghadapi kenyataan bahwa agenda yang telah disusun jauh-jauh hari mendadak berantakan.
Ada yang hendak menghadiri pesta perkawinan, arisan keluarga, ulang tahun, seminar, rapat bisnis, hingga mereka yang sekadar ingin pulang setelah sepekan bekerja di luar kota.
Yang paling menguras emosi adalah ketidakpastian. Kapan penerbangan kembali normal?
Sebagian memilih refund tiket dan berganti moda transportasi. Ada yang menunggu di bandara dengan harapan penerbangan segera dibuka. Sebagian lainnya terpaksa membatalkan seluruh agenda.
Wajar jika ada yang kecewa, marah bahkan mengumpat.
Dampaknya juga tidak hanya dirasakan penumpang domestik. Penerbangan internasional ikut terganggu. Ada jamaah umrah yang harus dialihkan ke Aceh. Ada penerbangan yang terpaksa kembali ke kawasan Teluk meski pesawat telah berada di wilayah udara India.
Wisatawan dari Malaysia dan Singapura pun harus menghadapi jadwal kepulangan yang tertunda. Waktu hilang, biaya bertambah.
Namun, di balik kesulitan itu, ada pula pihak yang justru memperoleh keberuntungan.
Toko dan kafe di sekitar bandara mendadak ramai. Taksi dan kendaraan daring kebanjiran order. Porter mendapat pekerjaan tambahan. Bahkan ada anak yang bahagia karena ayahnya yang seharusnya bepergian akhirnya bisa tetap di rumah dan merayakan ulang tahunnya bersama keluarga.
Begitulah kehidupan.
Apa yang bagi seseorang merupakan bencana, bagi orang lain bisa menjadi keberuntungan.
WS Rendra pernah mengingatkan bahwa bencana dan keberuntungan pada hakikatnya dapat dilihat dari sisi yang berbeda.
Pada akhirnya, manusia hanyalah bagian kecil dari kehidupan yang berada dalam kekuasaan Yang Maha Kuasa.
Berhenti dan Bertanya
Lalu, apa yang harus dilakukan?
Bagi orang beragama, keadaan seperti ini semestinya menjadi momentum untuk berhenti sejenak.
Menarik napas.
Merenung.
Dan bertanya: apa hikmah di balik semua ini?
Khususnya ketika sesuatu yang berada di luar kendali kita tiba-tiba mengubah seluruh rencana.
Seorang muslim diajarkan untuk menyadari keterbatasannya. Al-Qur’an mengingatkan:
“Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi,’ kecuali dengan mengatakan, ‘Insya Allah’.” (QS. Al-Kahf: 23-24).
Insya Allah bukan sekadar ucapan. Ia mengingatkan manusia bahwa sehebat apa pun rencana yang dibuat, keputusan terakhir tetap bukan milik kita.
Ketika Doa Sopir Taksi Mengubah Jadwal Saya
Saya pernah mengalami peristiwa sederhana yang sampai sekarang masih saya ingat.
Saat itu saya hendak terbang ke Indonesia Timur dengan jadwal sekitar pukul 05.00.
Karena sudah check-in online dan tidak membawa bagasi, saya memperkirakan baru akan memesan taksi daring sekitar pukul 03.15. Perjalanan dari rumah ke bandara sekitar 30 menit.
Namun entah mengapa malam itu saya terbangun lebih cepat.
Saya langsung mandi, bersiap dan memesan taksi tanpa melihat jam.
Tidak sampai dua menit, kendaraan sudah mendapatkan pesanan saya.
Di dalam mobil terjadi percakapan.
“Pesawat jam berapa, Pak?”
“Jam lima. Tapi saya nggak mau terburu-buru,” jawab saya.
Saya bahkan belum melihat jam di telepon genggam.
“Kok Bapak cepat ambil penumpang?” saya bertanya. Biasanya saya harus menunggu 10-15 menit.
Sopir itu menjawab, “Tadi sebenarnya saya dapat order. Sudah dekat, tiba-tiba dibatalkan. Saya berdoa mudah-mudahan ada order lagi. Ternyata order Bapak masuk.”
Lalu dia berkata, “Padahal pesawat Bapak masih jam lima. Ini baru jam dua lebih.”
Saya terkejut.
Saya melihat HP.
Benar. Saat itu baru pukul 02.20.
Saya kemudian meminta sopir berkendara santai. Hasilnya, sebelum pukul 03.00 saya sudah tiba di bandara.
Terlalu pagi.
Terminal masih gelap. Sebagian kedai kopi dan kios bahkan belum buka.
Awalnya saya merasa heran. Tetapi kemudian saya berpikir, mungkin doa sopir itu memang sedang dijawab dengan cara yang tidak kami duga.
Saya justru mendapat waktu untuk duduk tenang, membuka laptop, memeriksa kembali jadwal acara, mengecek presentasi dan mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih baik.
Ketika kafe mulai buka, saya memesan kopi pahit dan roti hangat.
Mungkin memang itu yang saya butuhkan.
Jeda.
Sebab ketika itu dunia terasa begitu sibuk.
Bekerja sampai malam, tidur hanya dua-tiga jam, kemudian kembali bepergian untuk memenuhi agenda pekerjaan dan organisasi.
Tubuh akhirnya memberi tanda.
Saya pernah mengalami mimisan ketika keluar dari taksi. Darah mengalir dan saya harus berlari ke toilet agar tidak berceceran di lantai maupun mengenai pakaian.
Barangkali tubuh sedang mengatakan: berhenti sebentar.
Jangan Menunggu Tubuh Memaksa Kita Berhenti
Kita memang memiliki kewajiban.
Kepada pekerjaan. Kepada organisasi. Kepada atasan. Kepada keluarga. Kepada masyarakat.
Semua harus dijalankan.
Namun rutinitas sering membuat manusia terlena. Kita berlari dari satu agenda ke agenda berikutnya, mengejar prestasi, pengakuan dan keberhasilan.
Terutama di Jakarta.
Semua orang seperti dituntut terus berlari agar tidak tertinggal.
Persoalannya, tubuh dan pikiran juga memiliki batas.
Karena itu saya justru senang melihat semakin banyak anak muda yang mulai menyadari pentingnya menikmati kehidupan bersama keluarga sejak usia 30-an atau 40-an.
Pergi berlibur. Mengunjungi tempat wisata. Membawa anak-anak bepergian. Bahkan melaksanakan umrah bersama keluarga ketika anak masih kecil.
Mereka menikmati hidup ketika tubuh masih kuat, makanan masih terasa nikmat dan pikiran masih segar.
Liburan bukan sekadar kemewahan. Ia bisa menjadi ruang untuk healing, mengisi ulang energi dan kembali bekerja dengan pikiran yang lebih jernih.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang sering baru memikirkan liburan ketika mendekati masa pensiun.
Saat usia sudah 50-an, steak harus dikunyah hati-hati. Trekking sedikit sudah ngos-ngosan. Duduk di ruang terbuka pun mulai mencari sweater agar tidak masuk angin.
Maka, mengapa harus menunggu tua untuk menikmati kehidupan?
Alam Sedang Mengingatkan
Penundaan penerbangan akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau barangkali bukan sekadar persoalan jadwal.
Bagi puluhan ribu penumpang, ini memang gangguan besar.
Tetapi bagi jutaan masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik—mulai Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta hingga Jawa Barat—peristiwa ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas alam.
Ada rumah yang harus dibersihkan. Ada aktivitas yang terganggu. Ada masyarakat yang harus menggunakan masker.
Alam seakan sedang mengatakan sesuatu:
Manusia boleh berlari, tetapi ada saatnya harus berhenti.
Mungkin ada agenda yang harus ditunda.
Mungkin ada perjalanan yang harus dibatalkan.
Mungkin ada pekerjaan yang harus menunggu.
Dan mungkin, di balik semua itu, ada kesempatan bagi kita untuk melihat kembali kehidupan yang selama ini terlalu cepat kita jalani.
Jangan buru-buru menganggap semua yang gagal sebagai musibah.
Bisa jadi ada perlindungan di dalamnya.
Bisa jadi ada kesempatan untuk memperbaiki sesuatu.
Bisa jadi ada waktu yang sengaja diberikan untuk keluarga.
Atau mungkin, sesederhana kita memang sedang diminta berhenti sejenak.
Sebab manusia tidak pernah berhenti belajar hingga akhir hayatnya.
Dan ketika alam sudah menegur, barangkali yang paling bijak bukan melawan, melainkan mendengar pesan yang disampaikannya.
Ciputat, 7 September 2026










