Babel  

BBM Langka di Bangka Belitung, Antrean Mengular di Pulau Bangka: Warga Desak Pemerintah Bergerak  

Caption : Penampakan antrian kendaraan di SPBU 24.331.69 Selindung Baru Pangkalpinang, Senin (17/11).

Bangka, Asatu Online— Krisis BBM kembali memukul aktivitas warga Bangka Belitung. Sejak awal pekan, kelangkaan Pertalite dan Pertamax membuat ratusan kendaraan mengular di hampir seluruh SPBU di Pulau Bangka. Kondisi ini memicu kepanikan dan keluhan warga karena aktivitas harian ikut lumpuh.

Di Pangkalpinang, antrean mulai muncul sejak subuh. Pengendara roda dua dan roda empat rela menunggu berjam-jam hanya untuk mengisi setengah tangki. “Kalau datang jam enam sudah telat. Kadang pas sampai depan, BBM habis,” kata Dani, warga Pangkalpinang, kesal, Senin (17/11/2025).

Situasi makin pelik karena Pertamax yang biasanya tersedia kini ikut langka. Banyak SPBU memilih menutup dispenser karena stok benar-benar kosong. “Pertalite hilang, Pertamax pun tidak ada. Kami seperti dipaksa berjudi demi dapat BBM,” ujar Reni, pengendara lainnya.

Pantauan di Sungailiat, Bangka Tengah, hingga Bangka Selatan juga menunjukkan kondisi serupa. Antrean kendaraan memadati badan jalan hingga memicu kemacetan panjang. Warga menyebut kelangkaan kali ini sebagai yang terparah dalam beberapa bulan terakhir.

Kelangkaan ini tak hanya menghambat mobilitas, tapi juga memukul sektor ekonomi rakyat. Pengemudi ojek, sopir travel, hingga pedagang keliling terpaksa kehilangan waktu produktif karena harus antre berjam-jam. “Kalau bisa kerja satu hari penuh, ini habis setengah hari buat antri BBM,” keluh Ridho, sopir travel.

Sebagian warga bahkan mengaku harus membatalkan kegiatan penting karena tak mendapat pasokan BBM. Ada pula yang memilih membeli BBM eceran dengan harga lebih tinggi karena tak sanggup antre.

Warga menilai pemerintah lambat merespons. Mereka menuntut penjelasan dan langkah konkret dari instansi terkait, mulai dari Pemprov Babel, Pertamina, hingga aparat pengawas distribusi BBM. “Jangan saling lempar. Masyarakat butuh kepastian pasokan, bukan alasan,” tegas seorang warga di kawasan Semabung.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi mengenai penyebab pasti kelangkaan. Dugaan mulai dari keterlambatan suplai hingga diduga adanya penyimpangan distribusi menyeruak di tengah masyarakat, namun tidak ada klarifikasi jelas dari pihak berwenang.

Warga meminta pemerintah turun langsung meninjau SPBU, memeriksa jalur distribusi, dan memastikan stok kembali normal. Berlarutnya krisis BBM ini dinilai bisa memicu masalah sosial dan ekonomi lebih besar jika tidak segera ditangani.

“Ini bukan sekadar antre panjang. Ini soal mobilitas masyarakat satu pulau yang terganggu. Pemerintah harus hadir, bukan hanya menyatakan sedang ‘dipantau’,” tutup warga. (*)

Penulis: A1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *