Ketua PSI Denpasar Selatan, I Gusti Putu Mahaindra Yasa, S.Kom (Foto : ist)
Denpasar, Asatu Online— Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali selama tiga hari terakhir. Fenomena panic buying atau pembelian berlebihan diduga menjadi pemicu lonjakan permintaan yang berujung pada kesulitan masyarakat mendapatkan BBM.
Ketua PSI Denpasar Selatan, I Gusti Putu Mahaindra Yasa, S.Kom, menilai perubahan perilaku konsumen ikut memperparah situasi. Masyarakat yang biasanya membeli BBM dalam jumlah terbatas kini memilih mengisi tangki hingga penuh.
“Bahkan kendaraan yang jarang digunakan pun ikut diisi penuh. Akibatnya, kebutuhan BBM meningkat jauh di atas kondisi normal,” kata I Gusti, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, lonjakan permintaan tersebut menimbulkan dampak berantai. Pekerja lapangan kesulitan mendapatkan BBM untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Antrean kendaraan di SPBU juga mengular hingga memicu kemacetan di sejumlah ruas jalan.
I Gusti menyebut kondisi ini mulai memukul aktivitas ekonomi masyarakat. Layanan pengemudi transportasi daring semakin sulit diakses, sementara distribusi logistik ikut terhambat.
Dampaknya merembet ke sektor pendidikan. Sejumlah kampus dan sekolah dilaporkan kembali menerapkan pembelajaran daring di tengah kesulitan mobilitas.
Di sisi lain, harga BBM eceran disebut melonjak tajam. Kondisi tersebut menambah beban masyarakat yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja dan menjalankan usaha.
Pemprov Bali Diminta Turun Tangan
I Gusti meminta Pemerintah Provinsi Bali segera mengambil langkah untuk meredam kepanikan masyarakat. Sosialisasi mengenai ketersediaan BBM dan imbauan agar warga membeli sesuai kebutuhan dinilai penting untuk menekan lonjakan permintaan.
Pemerintah juga diminta memperketat pemantauan distribusi BBM bersama Pertamina agar pasokan menjangkau masyarakat secara merata.
“Harapannya, Pemprov Bali terus memantau dan mengawasi proses distribusi di Pertamina. Masyarakat juga perlu ditenangkan agar tidak membeli BBM secara berlebihan,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memaksimalkan sosialisasi penggunaan transportasi umum. Upaya tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Ia menilai, transisi menuju kendaraan listrik juga perlu mulai disosialisasikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM.
“Angkutan publik harus disosialisasikan secara maksimal, jangan terkesan setengah hati. Penggunaan kendaraan listrik juga perlu mulai diperkenalkan kepada masyarakat,” katanya.
Selain penanganan pasokan, I Gusti meminta Pemprov Bali memantau pelaku usaha yang terdampak. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kenaikan harga barang dan tekanan inflasi apabila distribusi logistik terus terganggu.(kris/mn)















