Pangkalpinang, Asatu Online — RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang diguncang peristiwa menghebohkan yang menyita perhatian publik, Kamis sore (22/1/2026). Insiden ini diduga melibatkan oknum Direktur RSUD Pangkalpinang berinisial DR dengan seorang pria berinisial S, yang disebut-sebut sebagai oknum kontraktor. Peristiwa tersebut bahkan berujung keributan terbuka dan menjadi tontonan pegawai, pasien, hingga pengunjung rumah sakit.
Informasi yang dihimpun Asatu Online menyebutkan, insiden bermula dari kecurigaan dr KB, suami dari dokter DR. Saat itu, dr KB mendatangi sebuah ruangan di lingkungan RSUD yang diketahui dalam kondisi terkunci dari dalam. Meski telah digedor berulang kali, pintu ruangan tersebut tetap tidak dibuka.
Situasi semakin memanas ketika dr KB meminta petugas RSUD mengambil kunci duplikat untuk membuka ruangan tersebut. Setelah pintu berhasil dibuka, di dalam ruangan diketahui terdapat dokter DR bersama seorang pria berinisial S.
Temuan tersebut diduga langsung memicu adu mulut keras antara dr KB dengan kedua pihak. Keributan tidak hanya terjadi di dalam ruangan, tetapi berlanjut hingga keluar, bahkan sampai ke area parkiran RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang.
Sejumlah saksi mata dari kalangan tenaga kesehatan dan pengunjung menyebutkan, keributan berlangsung terbuka dan sulit dihindari, sehingga dengan cepat menyebar dan menjadi pembicaraan hangat di internal rumah sakit maupun di tengah masyarakat.
Peristiwa ini kemudian memunculkan pertanyaan serius dari publik, khususnya terkait apa hubungan sebenarnya antara Direktur RSUD Pangkalpinang dengan oknum kontraktor tersebut. Apalagi, keberadaan keduanya di dalam ruangan yang terkunci menimbulkan spekulasi luas dan sorotan tajam dari berbagai kalangan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari dokter DR, oknum kontraktor S, maupun dr KB terkait insiden tersebut. Redaksi jejaring media KBO Babel mengaku telah menyampaikan upaya konfirmasi kepada pihak-pihak terkait, namun belum mendapatkan jawaban.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, dr Thamrin, juga belum memberikan tanggapan resmi terkait peristiwa yang dinilai berpotensi mencoreng citra layanan kesehatan publik tersebut.
Sementara itu, Wali Kota Pangkalpinang Prof Saparudin mengaku belum mengetahui adanya insiden tersebut.
“Saya tidak mendapat informasi terkait hal itu,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi.
Padahal, posisi dokter DR, sebagai Direktur RSUD Pangkalpinang menempatkan yang bersangkutan sebagai figur sentral dalam menjaga profesionalisme, etika, serta marwah institusi pelayanan kesehatan milik pemerintah daerah.
Peristiwa ini dinilai tidak lagi sekadar persoalan personal. Jika benar melibatkan oknum kontraktor, maka publik menilai terdapat irisan serius dengan integritas jabatan, tata kelola rumah sakit, serta kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah Kota Pangkalpinang.
RSUD sebagai fasilitas pelayanan kesehatan seharusnya menjadi ruang yang steril dari konflik pribadi, apalagi yang berujung kegaduhan terbuka dan berpotensi mengganggu kenyamanan serta psikologis pasien.
Publik kini menanti langkah tegas dan transparan dari Pemerintah Kota Pangkalpinang, mulai dari klarifikasi resmi, pemeriksaan internal, hingga keterbukaan informasi agar spekulasi liar tidak terus berkembang.
Redaksi Asatu Online akan terus mengupayakan konfirmasi kepada seluruh pihak terkait dan menyajikan perkembangan informasi secara berimbang sesuai dengan prinsip dan kode etik jurnalistik. (*)













