Ketum BPI KPNPA RI, Rahmad Sukendar (Foto : A1)
Jakarta, Asatu Online – Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad Sukendar, kembali menembakkan kritik keras terhadap kondisi internal Polri yang dinilainya semakin jauh dari harapan publik. Ia menyebut banyak perwira kini justru berubah menjadi “Pangkodamar” – Panglima Komando dalam Kamar – yang lebih nyaman bersembunyi di balik meja ketimbang hadir di tengah rakyat.
Rahmad menegaskan, jabatan struktural yang seharusnya digunakan untuk mendengarkan suara masyarakat justru berubah menjadi tembok sulit ditembus bagi warga kecil yang mencari keadilan.
“Banyak masyarakat ingin bertemu kapolsek, kapolres, kapolda, atau pejabat utama Polri, tapi sulitnya luar biasa. Tapi untuk cukong, sangat mudah ditemui. Ini ironi besar,” tegas Rahmad kepada Asatu Online, Selasa (25/11).
Fenomena itu, menurutnya, telah merusak citra Polri dan mempertebal jarak antara aparat dan masyarakat yang seharusnya mereka layani.
Publik Merindukan Pemimpin Polri yang Sederhana
Rahmad menilai, publik kini merindukan kehadiran figur pemimpin Polri yang sederhana, transparan, dan mau turun ke lapangan tanpa protokoler berlapis.
Ia menyebut sosok Irjen Pol (Purn) Umar Septono sebagai contoh nyata jenderal yang merakyat dan dicintai masyarakat. Namun figur semacam itu, kata dia, kini semakin jarang ditemukan.
“Belum ada sosok Hoegeng yang lahir kembali di tubuh Polri. Padahal publik merindukannya,” ujar Rahmad.
Menurutnya, Polri membutuhkan lebih banyak pemimpin yang hadir langsung di tengah rakyat, bukan hanya bersembunyi di ruang kerja ber-AC.
Pertemuan Kapolri – Kasatwil Harus Jadi Titik Balik Reformasi
Rahmad mendorong agar pertemuan Kapolri dengan seluruh Kasatwil se-Indonesia tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi momentum besar menuju reformasi total Polri. Ia menegaskan reformasi harus menyentuh akar persoalan, bukan sekadar seremonial.
“Kapolri harus menjadikan pertemuan ini sebagai titik balik. Reformasi Polri harus konkret, terukur, dan dirasakan langsung oleh publik,” kata Rahmad.
Menurutnya, Kasatwil memegang peran strategis dalam memulihkan kepercayaan publik. Internal harus dibersihkan dan pelayanan harus diperbaiki.
“Jangan sampai kantor polisi justru menjadi tempat lahirnya masalah baru. Penegakan hukum harus imparsial,” ujarnya.
Gaya Hidup Hedon Polisi Dinilai Sudah Mengkhawatirkan
Rahmad memberikan peringatan keras terkait budaya hedon yang dipertontonkan sebagian oknum polisi. Flexing mobil mewah, pesta eksklusif, hingga endorse dinilainya telah melewati batas kewajaran.
“Sudahi budaya flexing. Sudahi endorse yang merendahkan martabat institusi. Polisi itu pelayan rakyat, bukan selebgram,” tegasnya.
Ia menilai reformasi mental mustahil berjalan jika gaya hidup berlebihan masih dibiarkan berkembang.
Pelayanan Publik Menjadi Barometer Utama Reformasi Polri
Menurut Rahmad, ukuran reformasi Polri tidak boleh diukur dari banyaknya spanduk atau slogan, tetapi dari perubahan pelayanan publik yang konkret.
“Masyarakat ingin dilayani dengan hati. Bukan dipersulit, bukan menunggu viral dulu baru bergerak,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa reformasi harus mengalir dari Mabes Polri sampai Bhabinkamtibmas karena level itulah yang paling sering bersentuhan dengan masyarakat.
“Jika pelayanan di Polsek saja masih bermasalah, maka reformasi belum berjalan,” katanya.
Desak Kapolri Bertindak Tanpa Kompromi
Rahmad mendesak Kapolri untuk menindak tegas seluruh bentuk pelanggaran, baik pungli, penyalahgunaan jabatan, maupun perilaku tidak profesional lainnya.
“Jika ada anggota yang mencoreng institusi, jangan ragu untuk bertindak tegas. Jangan biarkan segelintir oknum merusak reputasi seluruh institusi,” katanya.
Menurutnya, ketegasan Kapolri akan menjadi fondasi penting dalam memulihkan marwah kepolisian.
Peringatan Religius: “Sebelum Polri Dilaknat, Berbenahlah”
Di penghujung pernyataannya, Rahmad menyinggung pesan keagamaan tentang bahaya hidup berlebihan.
“Siapa yang berpoya-poya berlebihan, tunggulah kehancurannya. Sebelum Polri dilaknat Allah, benahi dulu semuanya,” ujar Rahmad.
Ia mengingatkan bahwa para senior Polri pada masa perjuangan hidup penuh pengorbanan dan integritas, namun kini sebagian oknum justru menunjukkan gaya hidup hedon.
“Para senior dulu berjuang mempertaruhkan nyawa. Tapi kini banyak junior yang lupa diri. Jika tidak dihentikan, tinggal tunggu waktu kehancuran institusi yang kita cintai,” pungkasnya. (A1)















