Jakarta, Asatu Online – Jeritan nelayan di pesisir Jakarta Utara makin lantang terdengar. Laut yang dulu jernih dan kaya ikan kini berubah keruh serta berbau menyengat. Diduga kuat, limbah pabrik yang terbawa aliran sungai jadi biang keladi rusaknya ekosistem perairan dan hancurnya panen ikan warga.
Dalam beberapa bulan terakhir, nelayan tradisional di kawasan Marunda dan Cilincing mengaku hasil tangkapan mereka anjlok hingga 70%. Ikan banyak yang mati, sementara jaring mereka sering terisi limbah padat yang mengapung di laut.
“Dulu sehari bisa dapat 15–20 kilo, sekarang 5 kilo pun susah,” keluh Rohman, nelayan yang sudah dua dekade menggantungkan hidupnya di laut Jakarta Utara, kepada wartawan, Minggu (6/10/2025).
Fenomena ini kian memperkuat kekhawatiran para pemerhati lingkungan. Mereka menilai, pencemaran dari aktivitas industri—baik langsung maupun tidak langsung—telah menembus kawasan pesisir utara Jawa. Dampaknya bukan cuma ekonomi nelayan, tapi juga ketahanan pangan dan kelestarian ekosistem laut.
“Ini ancaman serius. Kalau laut rusak, nelayan kehilangan penghasilan, masyarakat kehilangan sumber protein, dan rantai ekonomi pesisir bisa lumpuh,” kata salah satu aktivis lingkungan.
Di tengah situasi suram itu, hadir kabar baik dari ALUN (Apresiasi Lingkungan dan Hutan Indonesia). Lembaga ini tak sekadar mengkritik, tapi juga menawarkan solusi konkret dan murah dari dalam negeri untuk mengolah limbah cair agar tak mencemari lingkungan.
Perwakilan ALUN menjelaskan, sistem pengolahan bernama LIMBATOR (Limbah Cair Treatment Reaktor) mampu menetralkan limbah industri dengan efisien tanpa biaya besar. Teknologi ini bahkan sukses meraih juara dalam Lomba Inovasi Masyarakat Pekanbaru 2025.
Ketua Umum ALUN Baharuddin Rahman menegaskan, inovasi seperti LIMBATOR merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia mampu mandiri dalam menciptakan solusi ramah lingkungan. Ia menilai, sudah saatnya pemerintah dan pelaku industri memberi ruang bagi karya anak bangsa.
“Kami di ALUN ingin menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus impor. Teknologi ini dirancang sederhana, biaya rendah, dan bisa diaplikasikan langsung oleh pabrik-pabrik di Indonesia,” ujar Baharudin.
“Kalau setiap industri mau sedikit berkomitmen menjaga lingkungan, nelayan tak akan terus jadi korban. Kita bisa bangun ekonomi dan lingkungan secara berdampingan,” tegasnya.
Menurut Baharuddin Rahman, penggunaan teknologi lokal seperti LIMBATOR bisa menjadi langkah strategis untuk menekan pencemaran tanpa membebani pelaku industri. Selain efisien, alat ini mudah dirawat dan bisa diterapkan pada skala kecil hingga menengah.
Kasus pencemaran di Jakarta Utara menjadi pengingat bahwa pembangunan industri tak boleh lepas dari tanggung jawab terhadap lingkungan. Jika diabaikan, yang pertama merasakan dampaknya adalah rakyat keci, para nelayan yang hidup dari laut. (*)















