Belinyu, KBA — Potensi besar yang lama tersembunyi akhirnya terkuak. Pada Jumat (18/7), Badan Pengurus Wilayah Gerakan Ekonomi dan Sosial Indonesia Demokrat (BPW GESID) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan peninjauan langsung ke sebuah lokasi sumber air panas alami di Kecamatan Belinyu, yang hingga kini belum dikenal luas masyarakat.
Ketua BPW GESID Babel, Suwardian Ramadhan—pemuda asal Belinyu—menyampaikan kondisi memprihatinkan terkait kawasan tersebut. Dalam dialog bersama pemerhati desa, termasuk seorang tokoh bernama Pak Manto, diketahui bahwa sumber air panas itu pernah dikelola masyarakat. Namun, pengelolaan terhenti karena status lahan bukan milik desa. Bahkan, kawasan itu sempat dimanfaatkan untuk aktivitas pertambangan timah yang merusak lingkungan sekitar.

Kini, lokasi yang terletak di perbatasan Desa Gunung Pelawan dan Desa Bintet tampak terbengkalai. Akses menuju lokasi tertutup semak belukar, tanpa adanya fasilitas pendukung, sehingga keberadaan aset daerah bernilai ini nyaris terlupakan. Padahal, suhu panas dari sumber air tersebut sangat tinggi dan telah ada sejak lama, menjadi fenomena alam yang unik.
“Jika dibiarkan terus, kita akan kehilangan salah satu aset daerah yang sangat potensial,” tegas Suwardian.
Sumber air panas ini berpeluang besar menjadi destinasi wisata alam unggulan. Selain itu, lokasinya berpotensi terintegrasi dengan kawasan wisata lainnya seperti pantai, Air Bedelew, dan situs sejarah di Belinyu. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini bisa menjadi ikon ekowisata baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
GESID Babel tidak tinggal diam. Survei lapangan telah dilakukan sebagai langkah awal. Saat ini, tim GESID tengah menyusun kajian strategis dan peta konsep pengelolaan kawasan tersebut. Koordinasi pun akan segera dilakukan bersama pihak terkait, seperti tokoh masyarakat, pemerintah desa, kecamatan, Inhutani selaku pemilik lahan, hingga DPRD. Bahkan, rencana penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) tengah disusun guna mendorong partisipasi publik.

“Kalau bukan kita, siapa lagi? Pemerintah membutuhkan generasi muda yang bukan hanya berbicara, tetapi juga bekerja. GESID siap menjadi mitra strategis untuk menggerakkan ini bersama,” ujar Suwardian penuh semangat.
GESID Babel pun mengajak seluruh pihak—pemerintah daerah, DPRD, Inhutani, hingga perusahaan-perusahaan lewat program CSR—untuk tidak menutup mata terhadap potensi nyata ini. Aspirasi masyarakat tinggi, dan generasi muda sudah menyuarakan niat baik mereka.
“Jangan sampai inisiatif ini berlalu tanpa tindak lanjut. Kini saatnya kita bergerak bersama, menyelamatkan aset daerah yang telah lama terlupakan,” pungkas Suwardian.
Sebagai representasi generasi muda Bangka Belitung, GESID Babel menyatakan komitmennya untuk menjadi garda terdepan dalam mendukung pengembangan desa dan daerah tercinta.















