Bang Herman Saleh, Ketua SMSI Babel (Foto : Ist)
Pangkalpinang, Asatu Online – Perseteruan antara Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani dan Wakil Gubernur Heliyana makin hari makin jadi tontonan publik yang memprihatinkan.
Alih-alih saling bahu-membahu membangun provinsi, keduanya justru larut dalam konflik yang makin lama makin mengganggu kenyamanan masyarakat.
Sorotan tajam pun datang dari Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Babel, Suherman Saleh.
Menurut Bang Herman—sapaan akrabnya—seharusnya Hidayat Arsani dan Heliyana kompak. Bukannya malah saling menjauh dan membentuk kubu masing-masing.
“Yang diributkan ini bukan urusan prinsipil. Malah makin digoreng sama beberapa media jadi tambah runyam,” kata Bang Herman kepada wartawan, Senin (14/7/2025).
Ia menyayangkan situasi ini terjadi di tengah kondisi Provinsi Babel yang sedang mengalami krisis keuangan cukup berat.
“Seharusnya sekarang fokus menarik investor asing sebanyak mungkin, bukan malah sibuk rebutan pengaruh,” ujarnya.
Apalagi, lanjutnya, perseteruan antara Gubernur dan Wakil Gubernur ini terjadi di usia pemerintahan yang belum genap setahun.
“Belum setahun menjabat, sudah gonjang-ganjing masalah yang bisa diselesaikan dengan komunikasi biasa. Ini memalukan,” tegas Herman.
Menurutnya, suasana yang gaduh ini juga sangat sensitif bagi kalangan ASN dan calon investor asing yang ingin masuk ke Bangka Belitung.
“Bagaimana investor mau percaya kalau nomor satu dan nomor dua di provinsi ini malah perang dingin?” sindirnya.
Bang Herman juga menyoroti sikap DPRD Provinsi Bangka Belitung yang dinilai pasif dan diam melihat situasi ini.
“DPRD jangan diam. Ini saatnya mereka turun tangan sebagai penyeimbang dan penjaga stabilitas politik daerah,” imbuhnya.
Ia berharap para elit politik di Babel segera sadar dan kembali fokus pada kerja-kerja pelayanan publik.
“Rakyat senang kalau pemimpinnya akur. Akur dalam kerja, bukan akur di depan kamera saja,” tukasnya.
Sebagai Ketua SMSI Babel, Bang Herman juga meminta media untuk tidak ikut memprovokasi atau menggiring opini yang memperkeruh keadaan.
“Media harus jadi pendingin, bukan kompor. Sekarang rakyat butuh ketenangan, bukan drama,” tutupnya. (yn)















