Pangkalpinang, Asatu Online – Misteri hilangnya 24 unit ventilator di RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga kini belum menemui titik terang. Alat kesehatan vital yang berfungsi membantu pernapasan pasien itu dikabarkan lenyap tanpa jejak. Dugaan hilangnya perangkat medis bernilai tinggi ini menimbulkan tanda tanya besar sekaligus kecemasan publik terhadap pengelolaan aset negara di rumah sakit tersebut.
Ventilator merupakan mesin penting yang digunakan untuk pasien dengan gangguan pernapasan berat, baik akibat penyakit akut maupun cedera serius. Menghilangnya 24 unit alat ini memunculkan spekulasi liar. Apakah benar terjadi pencurian, kelalaian pencatatan aset, atau ada motif lain di balik raibnya alat kesehatan tersebut?
Dengan sistem keamanan rumah sakit sebesar RSUD Soekarno yang tergolong ketat, sulit membayangkan 24 ventilator bisa begitu saja hilang. “Kalau ini betul terjadi, pasti bukan aksi tunggal,” kata seorang narasumber yang mengetahui kondisi internal rumah sakit itu.
Menurut dia, ukuran ventilator yang besar membuat proses pemindahan tanpa terdeteksi menjadi hampir mustahil tanpa keterlibatan orang dalam.
Selain soal teknis, pertanyaan lain muncul: siapa yang berani membeli ventilator hasil curian? Mengingat ventilator bukan alat sembarangan yang bisa digunakan oleh masyarakat umum, melainkan memerlukan teknisi khusus untuk perawatan dan operasionalnya. Dugaan ini memperkuat kemungkinan adanya jaringan yang mengerti dunia alat kesehatan di balik kasus ini.
Secara logika, ventilator lazimnya ditempatkan di ruang rawat intensif atau kamar isolasi, area yang setiap saat diawasi tenaga medis.
“Kecuali kalau yang mengambil sudah sangat paham situasi internal,” ujar narasumber tersebut.
Ia menambahkan, kalau pun alat itu rusak, bentuk fisiknya mestinya tetap ada sebagai barang inventaris.
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bangka Belitung, Suherman Saleh, angkat suara terkait kasus ini. Ia mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polda Babel dan Kejaksaan Tinggi Babel, segera turun tangan.
“Tidak mungkin barang sebesar ventilator hilang begitu saja. Ini patut diduga ada yang mendalangi atau lebih parah, barang itu memang sejak awal tidak pernah ada,” kata Suherman, Jumat (25/4/2025).
Menurut Suherman, sebagai barang milik negara, hilangnya ventilator dalam jumlah besar merupakan kerugian besar yang harus diusut tuntas.
Ia meminta penyelidikan menyeluruh, mulai dari pengadaan, pencatatan aset, hingga distribusi alat tersebut.
“Jangan sampai ini menguap tanpa kejelasan. Ini uang rakyat,” tegasnya.
Hilangnya ventilator semakin memperburuk citra RSUD Soekarno, yang sebelumnya juga disorot akibat pembongkaran kantin rumah sakit tanpa pertanggungjawaban anggaran pembangunan. Kondisi ini menambah daftar panjang dugaan mismanajemen di rumah sakit rujukan terbesar di Babel tersebut.
Menanggapi polemik tersebut, Direktur RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno, Dokter Ira Ajeng, menyatakan bahwa pihak rumah sakit menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada aparat berwenang.
“Untuk masalah ventilator, saat ini masih dalam proses pemeriksaan oleh Polres Bangka, Inspektorat Provinsi, dan Kejati,” kata Bu Dokter saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, manajemen RSUD Soekarno berkomitmen untuk transparan dan kooperatif dalam setiap tahapan pemeriksaan guna mengungkap fakta yang sebenarnya.
Publik kini menunggu sikap tegas manajemen RSUD Soekarno dan pemerintah daerah atas dua masalah besar ini: hilangnya puluhan alat bantu pernapasan dan kerugian negara akibat pembongkaran aset. Apakah fakta-fakta ini akan dibuka terang-benderang, atau justru dibiarkan hilang bersama waktu? (*)















