Caption : Ustaz Ihsan Munawir
Bekasi, Asatu Online — Di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi bangunan yang memprihatinkan, Taman Pendidikan Alquran (TPA) Tahfidz Alquran di Kampung Tambun Tiga, RT 003/RW 01, Desa Samudera Jaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, tetap berjuang memberikan pendidikan agama kepada sekitar 90 santri dan santriwati.
Semangat para santri untuk belajar membaca dan menghafal Alquran tidak surut, meski harus menjalani kegiatan belajar mengajar di ruangan yang sempit dan kerap terdampak banjir saat musim penghujan.
Ihsan Munawir, pengajar yang akrab disapa guru atau ustaz, mengatakan kondisi fasilitas TPA saat ini masih jauh dari memadai. Ruangan yang digunakan untuk kegiatan belajar hanya berukuran sekitar 50 meter persegi, sementara jumlah santri yang harus ditampung mencapai puluhan orang.
“Alhamdulillah, walaupun dengan ruangan yang kurang memadai, para santri kami tetap mau belajar. Bangunan ini merupakan hasil swadaya dari para orang tua santri,” ujar Ihsan kepada awak media, Kamis (29/10/2026).
Keterbatasan tersebut semakin terasa ketika musim hujan tiba. Ruangan tempat para santri menimba ilmu kerap terendam banjir dengan ketinggian mencapai sekitar 30 sentimeter.
Kondisi itu diduga akibat tersumbatnya aliran kali di sekitar lokasi yang dipenuhi tanaman eceng gondok. Akibatnya, air meluap dan menggenangi area TPA, sehingga mengganggu kenyamanan serta aktivitas belajar para santri.
TPA Tahfidz Alquran tersebut didirikan pada 2019 dengan tujuan memberikan pendidikan agama kepada anak-anak di lingkungan sekitar.
Namun, perjalanan lembaga pendidikan nonformal ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Selain keterbatasan fasilitas, kondisi kesehatan Ihsan Munawir yang saat ini mengalami gangguan akibat penyakit stroke juga menjadi ujian tersendiri.
Meski demikian, semangatnya untuk tetap mengajar tidak padam. Kegiatan belajar mengajar tetap berjalan demi memastikan para santri mendapatkan pendidikan agama dan memiliki bekal ilmu Alquran sejak usia dini.

Kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana pendidikan agama di lingkungan masyarakat masih banyak bertumpu pada semangat pengabdian para pengajar serta dukungan swadaya orang tua santri.
Di sisi lain, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah maupun pihak terkait.
Selain kebutuhan perbaikan fasilitas dan penanganan banjir, Ihsan menyebut TPA yang dikelolanya juga membutuhkan alat musik hadroh untuk mendukung kegiatan keagamaan, khususnya bagi para santri laki-laki.
Menurutnya, keberadaan alat hadroh dapat menunjang kegiatan seni islami sekaligus menjadi sarana pembinaan karakter dan kreativitas para santri.
Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Bekasi, dapat memberikan perhatian terhadap keberadaan TPA yang selama ini berperan dalam membina generasi muda melalui pendidikan agama.
“Harapan kami kepada pemerintah daerah agar lebih memperhatikan para guru yang mengajar ilmu agama. Kami ingin anak-anak tetap bisa belajar Alquran dengan baik, meskipun saat ini fasilitas yang kami miliki masih sangat terbatas,” ungkap Ihsan.
Persoalan yang dihadapi TPA Tahfidz Alquran di Tarumajaya ini menjadi pengingat bahwa pendidikan agama di tengah masyarakat membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar apresiasi.
Dengan jumlah sekitar 90 santri yang belajar di ruang terbatas dan menghadapi ancaman banjir saat musim hujan, perhatian terhadap fasilitas pendidikan agama menjadi kebutuhan mendesak.
Semangat para santri untuk terus belajar Alquran patut mendapat dukungan. Kini, harapan tertuju kepada pemerintah daerah dan pihak terkait agar kondisi tersebut tidak terus dibiarkan, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih aman, nyaman, dan layak. (*)















