Aceh  

PBA Ajak Rakyat Aceh Hidupkan Kembali Gema Zikir, Jangan Jadikan Agama Alat Provokasi

Asatu Online, Banda Aceh — Zikir bersama yang rutin digelar setiap malam Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, dinilai bukan sekadar ritual ibadah. Lebih dari itu, zikir menjadi ruang spiritual untuk menyatukan hati, mempererat ukhuwah, sekaligus memperkokoh persaudaraan sesama umat dan anak bangsa.

Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA), Subki Mohammad Bintang, menyambut baik tradisi tersebut dan mengajak seluruh rakyat Aceh untuk kembali menghidupkan gema zikir secara lebih luas.

Menurutnya, semangat zikir dan kebersamaan tidak boleh berhenti di Masjid Raya Baiturrahman. Gema tersebut harus menjalar ke seluruh pelosok Aceh, dari barat hingga timur Tanah Rencong.

“Zikir adalah obat hati sekaligus pengikat persatuan umat. Ketika kita bersatu dalam mengingat Allah, insyaallah perpecahan dapat diredam, kebencian dikikis, dan kasih sayang sesama anak bangsa semakin tumbuh,” ujar Subki, Kamis (20/8/2026).

Ia mengajak masyarakat menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai salah satu pusat penggerak kebangkitan rohani masyarakat Aceh.

“Mari kita jadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai pusat penggerak. Dari sini gema zikir kita hidupkan ke gampong-gampong, kecamatan, kabupaten, hingga ke setiap sudut negeri ini,” ajaknya.

Di sisi lain, Subki menyampaikan peringatan keras kepada seluruh pihak agar tidak menjadikan agama sebagai kendaraan untuk kepentingan pribadi maupun alat untuk memecah belah masyarakat.

“Jangan sekali-kali menjual agama untuk kepentingan pribadi. Jangan pula menggunakan panggung agama untuk memprovokasi dan menghasut rakyat Aceh,” tegasnya.

Menurut Subki, agama semestinya menjadi jalan menuju kebenaran, kedamaian dan persatuan. Panggung keagamaan, kata dia, harus menghadirkan kesejukan serta memperkuat ukhuwah, bukan justru menjadi ruang untuk menebar kebencian dan permusuhan.

Panggung zikir harus menyatukan, bukan memisahkan. Menyejukkan hati, bukan membakar emosi. Mengajak kepada kebaikan, bukan mengarahkan masyarakat kepada permusuhan.

PBA menilai kekuatan sejati Aceh tidak semata-mata bertumpu pada kekayaan alam maupun pembangunan fisik. Kekuatan Aceh yang sesungguhnya, kata Subki, terletak pada ketakwaan, persatuan dan kuatnya persaudaraan rakyat.

Karena itu, memperbanyak zikir dan memperkuat silaturahmi dinilai menjadi bagian penting dalam membangun Aceh yang damai, bermartabat dan penuh keberkahan.

Subki berharap tradisi zikir bersama tersebut dapat menjadi gerakan moral dan spiritual yang tumbuh dari masyarakat serta menyebar ke seluruh penjuru Aceh.

“Marilah kita hadir. Ajak keluarga, tetangga dan saudara-saudara kita. Semoga zikir bersama ini menjadi awal kebangkitan rohani yang menyatukan seluruh rakyat Aceh dalam iman dan ukhuwah Islamiyah,” pungkas Subki Mohammad Bintang. (marwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *