Aceh Besar, Asatu Online – Ruang Arifa Safura Studio, Sabtu (20/6/2026), dipenuhi suasana hening yang sarat kegelisahan. Dalam temaram cahaya merah dan dominasi kostum hitam, Cut Nyak Institute menghadirkan Monolog Tubuh “Kurông”, sebuah pertunjukan seni gerak yang dimainkan oleh Zikrayanti sebagai ruang refleksi atas berbagai bentuk pembatasan terhadap tubuh, kebebasan, dan ekspresi manusia.
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, “Kurông” menjadi manifestasi visual yang membedah ketakutan, tekanan, hingga perlawanan terhadap berbagai bentuk pengawasan dan penertiban yang dinilai kerap menyasar kelompok rentan. Simbol kurungan yang menguasai panggung menggambarkan bagaimana batas-batas yang dibentuk manusia dapat berubah menjadi penjara bagi kebebasan individu.
Usai pementasan, suasana semakin emosional saat sesi diskusi berlangsung. Zikrayanti, yang juga bertindak sebagai storyteller, menyampaikan kritik terhadap praktik penegakan aturan yang dinilai tidak berjalan secara adil.
“Selama ini wajah pengawasan moralitas sering kali tajam ke bawah, namun tumpul ke atas. Tubuh dan jiwa manusia bukan milik lembaga, penguasa, ataupun politisi. Tubuh kita adalah hak yang melekat pada diri kita sendiri dan Tuhan,” ujar Zikrayanti di hadapan peserta diskusi.
Pemantik diskusi Arifa Safura kemudian menyoroti bagaimana tubuh perempuan kerap menjadi objek kekuasaan dan kepentingan politik. Menurutnya, keberadaan perempuan dalam ruang kekuasaan semestinya mampu menghadirkan ruang aman yang sesungguhnya, bukan sekadar menjadi simbol dan komoditas politik.
Ia juga mengulas penataan artistik pertunjukan yang sengaja dirancang untuk membangun rasa tidak nyaman secara psikologis bagi penonton. Permainan cahaya merah, tangga menyerupai jeruji, serta efek suara yang menghantam besi menjadi elemen yang menghadirkan suasana teror batin dan keterkungkungan.
Diskusi semakin hidup ketika sejumlah peserta membagikan pengalaman dan trauma akibat berbagai bentuk tekanan sosial yang mereka rasakan. Salah seorang penonton menyebut pementasan tersebut berhasil membuka kembali luka kolektif yang selama ini dipendam, sekaligus mengingatkan pentingnya solidaritas dalam menghadapi berbagai bentuk penindasan.
Senada dengan itu, penata artistik Rozhatul Valica menyoroti budaya patriarki yang tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga membebani laki-laki dengan tuntutan sosial yang kaku. Ia mengkritik stereotip gender yang menurutnya telah dianggap sebagai sesuatu yang normal hanya karena terus-menerus direproduksi di tengah masyarakat.
“Kesadaran itu ada di otak kita, bukan di gender,” tegas Rozhatul.
Diskusi juga menyinggung bagaimana stigma dan pembagian peran domestik yang timpang dalam keluarga sering kali menjadi akar pembungkaman terhadap perempuan. Beban yang terus ditanamkan sejak ruang terkecil, yakni rumah tangga, dinilai berkontribusi mematikan keberanian perempuan untuk menyuarakan pendapat di ruang publik.
Sementara itu, penata musik Farhan Ali turut membagikan pengalaman pribadinya terkait sempitnya ruang berekspresi. Ia mengaku pernah mengalami pembubaran kegiatan olahraga bersama yang dilakukan tanpa mengganggu masyarakat, namun tetap dihentikan oleh pihak tertentu dengan alasan yang tidak jelas.
Melalui pementasan “Kurông”, Cut Nyak Institute ingin menegaskan bahwa tubuh dan pikiran manusia merupakan wilayah yang merdeka dan tidak seharusnya dikendalikan oleh kepentingan politik maupun penghakiman sosial.
Pertunjukan ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga memantik kesadaran bahwa masyarakat tidak cukup hanya menjadi penonton pasif. Keberanian untuk bersuara, bergerak, dan memperjuangkan rasa aman serta kebebasan diri menjadi pesan utama yang dibawa pulang oleh setiap pengunjung dari panggung “Kurông”. (Marwan)














