Menakar Peluang dan Isu Paslon di Pilkada Ulang Bangka 2025

Catatan Redaksi Asatu Online

Oleh : Bang Herman Redaksi Asatu Online

Bangka, Asatu Online – Pilkada ulang Kabupaten Bangka yang akan digelar Agustus 2025 mendatang menjadi momen penting bagi demokrasi lokal. Lima pasangan calon (paslon) telah resmi mendaftar dan siap bertarung dalam kontestasi ini. Pesta demokrasi ini menjadi ajang uji konsistensi masyarakat dalam memilih pemimpin yang jujur, bersih, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Kelima paslon memiliki latar belakang dan dukungan politik yang cukup beragam. Ada paslon yang didukung partai besar dengan suara terbanyak, ada pula yang mengandalkan kekuatan koalisi partai menengah hingga kecil. Namun, besarnya suara dukungan dari pemilu sebelumnya bukan jaminan kemenangan, karena pemilih kini makin cerdas dan kritis terhadap rekam jejak calon.

Pasangan Ferry Insani – Syahbudin misalnya, mendapat dukungan terbanyak dari hasil suara sebelumnya, yakni 70.835 suara. Mereka diusung dua partai besar: Gerindra dan PDIP. Secara politik, keduanya memiliki modal besar. Tapi seiring besarnya dukungan, tanggung jawab mereka untuk membuktikan integritas juga lebih tinggi.

Paslon Rato Rusdiyanto – Ramadian menjadi sorotan lain. Dengan dukungan 42.660 suara dari Partai NasDem dan Partai Golkar, mereka punya basis massa yang cukup kuat. Namun kabar miring terkait ijazah yang disebut hanya sebatas paket C turut menjadi perbincangan di publik. Jika benar, tentu ini jadi tantangan tersendiri untuk membuktikan kapasitas di tengah stigma pendidikan rendah.

Sementara Andi Kusuma – Budiyono, dengan 21.813 suara dan dukungan dari sembilan partai, menunjukkan kekuatan koalisi luas. Namun, luasnya koalisi tidak otomatis menjamin soliditas gerakan politik di lapangan.

Paslon Aksan Visyawan – Rustam Jasli dari PKS dan PPP membawa nuansa agamis dan politisi senior. Dukungan 24.536 suara mereka bukan angka kecil. Mereka disebut-sebut punya rekam jejak berpolitik yang bersih dan program yang membumi. Jika mampu menggaet simpati generasi muda, peluangnya bisa melejit.

Pasangan H. Naziarto – H. Usnen dari PAN dan Demokrat, walau hanya bermodalkan 20.135 suara, bisa jadi kuda hitam. Dengan strategi kampanye yang cerdas dan pendekatan ke basis pemilih bawah, mereka tetap punya kans besar. Tapi lagi-lagi, publik akan menilai program dan integritas, bukan sekadar popularitas.

Dalam pengamatan redaksi Asatu Online, isu-isu miring yang beredar terhadap beberapa paslon patut disikapi hati-hati. Publik tidak boleh mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Misalnya isu kepemilikan kebun sawit di kawasan hutan atau dugaan skandal pribadi seperti ada wanita idaman lain (Wil), semua itu harus diuji dengan data, bukan asumsi liar.

Begitu pula dengan soal ijazah. Apakah benar ada paslon yang hanya mengantongi ijazah paket? Bila ya, tentu sah secara hukum, tapi akan jadi bahan pertimbangan publik untuk menilai kapasitas kepemimpinan di tengah kompleksitas birokrasi masa kini.

Redaksi juga mendapat informasi bahwa ada tekanan politik dari elit partai kepada para kader di legislatif agar aktif memenangkan paslon tertentu. Bahkan disebut-sebut ada ancaman PAW (pergantian antar waktu) bagi dewan yang dianggap tidak loyal. Jika benar, ini mencederai prinsip demokrasi yang sehat dan partisipatif.

Pilkada sejatinya adalah ajang rakyat menentukan nasib mereka lima tahun ke depan, bukan medan adu kekuasaan para elit semata. Money politic, intimidasi politik, dan politik transaksional harus dilawan bersama. Rakyat Bangka berhak mendapatkan pemimpin yang terbaik dari yang baik.

Kami dari redaksi Asatu Online berharap seluruh paslon bersaing secara sehat dan mengedepankan adu gagasan, bukan saling menjatuhkan. Masyarakat harus diberi ruang untuk menilai sendiri siapa yang paling layak memimpin Bangka ke depan.

Pemilih cerdas adalah harapan terbesar demokrasi. Jangan tergoda iming-iming sesaat atau janji palsu kampanye. Pilihlah calon yang bisa dipercaya, yang punya visi jelas, dan komitmen kuat pada kemajuan Bangka.

Pilkada ulang ini adalah kesempatan kedua bagi Bangka untuk memperbaiki pilihan. Gunakan suara Anda sebaik mungkin. Jangan sampai salah pilih karena terpukau citra dan lupa substansi. Redaksi Asatu Online akan terus mengawal proses ini dengan independen, kritis, dan bertanggung jawab. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *