Depok  

Ahmad Safrudin: Rencana CFD di Jalan Margonda Depok Cacat Teknis, Perlu Dikaji Ulang  

Depok, Asatu Online— Pemerintah Kota Depok berencana menghidupkan kembali kegiatan Car Free Day (CFD) yang sempat vakum. Namun rencana ini mendapat sorotan tajam dari aktivis lingkungan dan keselamatan jalan. Ahmad Safrudin dari Car Free Day Indonesia menilai, desain penyelenggaraan CFD di Jalan Raya Margonda cacat secara teknis dan menyimpang dari pedoman nasional.

“CFD seharusnya menjadi ruang publik yang aman dan sehat, bukan sekadar seremoni tanpa dampak nyata,” ujar Safrudin dalam diskusi publik di Jambo Kupi, Margonda, Sabtu, 3 Mei 2025.

Menurutnya, rencana pelaksanaan CFD di Jalan Margonda yang hanya menutup sebagian ruas jalan sejauh 2,7 km dan hanya berlangsung selama tiga jam (06.00–09.00 WIB) tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dalam panduan penyelenggaraan CFD tahun 2015.

CFD idealnya menutup ruas jalan sepanjang minimal 4 kilometer dan berlangsung minimal delapan jam. Kombinasi panjang dan durasi itu penting agar kegiatan benar-benar berdampak pada pemulihan kualitas udara serta memungkinkan pengukuran udara yang sahih dan komprehensif.

“Kalau hanya tiga jam dan 2,7 km, itu lebih cocok disebut event jalanan, bukan CFD,” tegas Safrudin.

Tak hanya soal durasi dan panjang jalan, ia juga menyoroti ketiadaan alat pemantau kualitas udara yang seharusnya dipasang untuk mengukur efektivitas CFD dalam menurunkan polusi.

Lebih dari itu, desain teknis CFD di Margonda dinilai membahayakan keselamatan pengunjung. Dalam skema yang dirancang, hanya jalur barat Jalan Margonda yang akan ditutup, sementara jalur timur tetap dibuka untuk kendaraan bermotor bahkan diterapkan contraflow.

“Ini rawan kecelakaan. Campuran antara pejalan kaki dan kendaraan bermotor bisa berakibat fatal,” ujar Alfred Sitorus dari Koalisi Pejalan Kaki. Ia mengingatkan insiden pada CFD di Jalan Jenderal Suprapto, Jakarta Pusat, tahun 2012, di mana seorang pesepeda tertabrak kendaraan bermotor akibat rekayasa lalu lintas yang tidak ideal.

Atas berbagai kekurangan itu, Safrudin meminta agar rencana penyelenggaraan CFD di Margonda pada 4 Mei 2025 ditunda dan dikaji ulang.

“CFD bukan hanya soal menutup jalan, tetapi transformasi budaya mobilitas. Tujuannya mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor dan mendorong alternatif sehat seperti berjalan kaki, bersepeda, atau naik angkutan umum,” tambahnya.

Car Free Day sendiri pertama kali diinisiasi pada 31 Maret dan 22 April 2001 sebagai gerakan moral untuk menghadirkan udara bersih di ruang kota.

Amalia S. Bendang, Program Officer dari Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), menyarankan agar Pemkot Depok mempertimbangkan kembali Jalan Ir H Juanda sebagai lokasi CFD. Menurutnya, jalan ini lebih layak karena memenuhi lima kriteria: panjang 4 km, memiliki jalur alternatif, lalu lintas padat yang dapat direduksi, simbolik sebagai jalan utama, dan pernah menjadi lokasi CFD sebelumnya.

Namun, jika Pemkot tetap memilih Jalan Margonda, maka penutupan harus dilakukan di kedua jalur, dari Fly Over UI hingga pertigaan Jalan ARH sepanjang 5,8 km.

“Ruang publik yang aman dan sehat tak bisa dibangun dengan kompromi setengah-setengah,” pungkas Amalia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *