Oleh Suherman Saleh Pemred Asatu Online*
Bangka, Asatu Online – Menjelang pemilihan ulang Bupati Bangka yang dijadwalkan pada Agustus 2025, sejumlah nama Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada) mulai bermunculan. Figur-figur yang muncul berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari birokrat, legislator, pengusaha, advokat, hingga tokoh masyarakat. Salah satu nama yang cukup dikenal publik adalah mantan Bupati Bangka, Mulkan SH, MH.
Dari kalangan birokrat, dua sosok mencuri perhatian: Rudiansyah dan Helmi Yunan Yazid. Rudiansyah adalah mantan PNS di Kabupaten Bangka, sementara Helmi Yunan Yazid merupakan adik kandung mantan Bupati Bangka, Yusroni Yazid. Kehadiran keduanya menambah dinamika dalam perebutan kursi kepala daerah.
Sementara itu, dari ranah politik, Dedi Yulianto muncul sebagai kandidat potensial. Mantan anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung ini memiliki pengalaman panjang di dunia politik. Namun, statusnya sebagai tersangka dalam kasus korupsi di Kejati Bangka Belitung menjadi ganjalan besar bagi langkah politiknya. Meski belum ditahan, status hukumnya masih dipertanyakan.
Di sektor pengusaha, nama Rustam Jali ikut meramaikan bursa pencalonan. Pria asal Desa Kimak, Kecamatan Merawang ini pernah duduk sebagai anggota DPRD Balikpapan. Pengalaman tersebut menjadi modal politik yang tak bisa dianggap remeh dalam kompetisi Pilkada Bangka 2025.
Mantan anggota DPRD Kabupaten Bangka, H. Usnen, juga menunjukkan keseriusannya dalam kontestasi kali ini. Dengan latar belakang politik yang cukup kuat, ia berpotensi menjadi pesaing serius bagi kandidat lain.
Nama lain yang cukup menarik perhatian adalah Andi Kusuma, seorang advokat yang dikenal luas melalui media sosial, terutama di TikTok. Popularitasnya di dunia maya berpotensi menjadi kekuatan tersendiri, meski ia masih baru di dunia politik praktis. Kehadirannya membuktikan bahwa Pilkada Bangka 2025 akan menjadi ajang pertarungan sengit antara wajah lama dan pendatang baru.
Dengan banyaknya kandidat yang bermunculan, Asatu Online memprediksi Pilkada Bangka 2025 akan diikuti setidaknya empat pasangan calon bupati dan wakil bupati. Namun, beberapa nama bisa tersingkir jika gagal mendapatkan dukungan partai politik sebagai kendaraan politik mereka.
Jika memang ada empat pasangan calon, persaingan akan semakin ketat. Keadaan ini bisa menguntungkan kandidat yang telah dikenal luas oleh masyarakat. Namun, yang tidak boleh diabaikan adalah pemilihan calon wakil bupati. Sosok pendamping yang tepat bisa menjadi faktor penentu kemenangan dalam pertarungan ini.
Selain faktor elektabilitas, kesiapan logistik dan strategi kampanye akan sangat menentukan hasil akhir. Setiap kandidat harus memiliki perencanaan matang untuk menarik simpati masyarakat Bangka yang semakin cerdas dan kritis dalam memilih pemimpin.
Pilkada ulang Bangka 2025 bukan sekadar ajang politik, tetapi juga momentum bagi masyarakat untuk menilai siapa kandidat yang benar-benar memiliki kapasitas kepemimpinan, rekam jejak bersih, serta visi pembangunan yang konkret.
Dinamika politik yang terus berkembang akan menjawab pertanyaan besar: akankah wajah lama masih mendominasi atau justru figur baru yang akan menggebrak? Publik menunggu kepastian, sementara para kandidat terus mengatur strategi menuju kemenangan. [*]















