Pangkalpinang, Asatu Online – Gelombang penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus menguat. Warga hingga kalangan jurnalis menilai proyek tersebut berisiko tinggi dan berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang lintas generasi.
Wartawan senior Bangka Belitung, Suherman Saleh, mengingatkan bahaya nuklir bukan ancaman jangka pendek. Ia mencontohkan tragedi Bencana Chernobyl yang dampaknya masih terasa hingga kini.
“Chernobyl terjadi tahun 1986, tapi sampai sekarang dampaknya masih ada. Bahaya nuklir itu bisa berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun. Ini harus jadi pertimbangan serius,” tegasnya, Minggu (3/5/2026).
Menurut Suherman, paparan radiasi nuklir tidak hanya berdampak pada satu generasi, tetapi juga dapat diwariskan ke generasi berikutnya.
“Kalau terjadi kecelakaan, bukan hanya kita yang terdampak, tapi anak cucu kita juga. Ini bukan risiko kecil,” ujarnya.
Ia pun meminta pemerintah berhati-hati dalam memberikan izin kepada PT Thorcon International Pte Ltd yang berencana membangun PLTN di Kabupaten Bangka Tengah.
Keraguan terhadap proyek ini juga sebelumnya disampaikan Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, yang menyoroti kemampuan teknis perusahaan dalam pengembangan teknologi nuklir.
Belajar dari Chernobyl
Sebagai salah satu bencana nuklir terburuk dalam sejarah, Chernobyl menjadi pengingat nyata akan risiko energi nuklir. Ledakan reaktor pada 26 April 1986 melepaskan material radioaktif dalam jumlah besar ke atmosfer dan menyebar ke berbagai wilayah Eropa.
Paparan radiasi tinggi saat itu menyebabkan kematian langsung pada petugas, serta memicu peningkatan kasus kanker, terutama kanker tiroid pada anak-anak. Selain itu, kawasan dalam radius 30 kilometer hingga kini masih menjadi zona terlarang bagi manusia.
Bahkan hingga 2026, potensi bahaya tetap ada meski reaktor telah ditutup dengan struktur pelindung raksasa. Insiden konflik di sekitar lokasi juga menunjukkan risiko tambahan terhadap keamanan fasilitas nuklir.
Warga Tolak, Jangan Ambil Risiko
Penolakan terhadap PLTN juga datang dari warga. Rizky, warga Koba, Bangka Tengah, menilai nuklir bukan solusi krisis energi di daerah.
“Masih banyak energi lain yang lebih aman, seperti tenaga surya atau air. Jangan ambil risiko besar dengan nuklir,” katanya.
Hal senada disampaikan Susanto, warga Belitung, yang menilai alasan kemajuan teknologi tidak cukup untuk menjamin keamanan PLTN.
“Nuklir tetap berisiko. Banyak negara maju justru mulai meninggalkannya,” ujarnya.
Sementara itu, Menkiong, warga Baturusa, mengingatkan pemerintah agar tidak menambah beban masyarakat yang sudah terdampak aktivitas tambang.
“Lingkungan sudah rusak karena tambang. Jangan ditambah lagi dengan ancaman nuklir,” tegasnya.
Bujang, warga Pulau Nangka, juga meminta pemerintah mengutamakan keselamatan masyarakat.
“Energi penting, tapi keselamatan jauh lebih penting. Jangan sampai ada PLTN di sini,” katanya.
Pemerintah Masih Kajian
Di tengah penolakan tersebut, pemerintah melalui Kementerian ESDM menyatakan rencana pembangunan PLTN masih dalam tahap kajian dan belum ada penetapan lokasi resmi.
Namun, wacana menjadikan Bangka Belitung sebagai kandidat lokasi tetap memicu keresahan publik.
PT Thorcon sebelumnya menawarkan teknologi Thorcon Molten Salt Reactor (MSR) yang diklaim lebih aman dan efisien. Meski begitu, klaim tersebut belum mampu meredam kekhawatiran masyarakat.
Penolakan yang terus menguat ini menjadi sinyal keras bagi pemerintah agar lebih berhati-hati, serta mempertimbangkan pengembangan energi alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan. (Wah)














