Ramadan di Tengah Bara Konflik, Israel Serang Umat Muslim Saat Ibadah

Foto : Salah satu gedung hancur di Iran yang di rudal yahudi Israel

Jakarfa, Asatu Online –Bulan Ramadan bagi umat Islam adalah momentum spiritual. Waktu untuk menahan diri, memperbanyak ibadah, dan mempererat solidaritas kemanusiaan. Namun dalam peta konflik Timur Tengah, bulan yang seharusnya penuh kedamaian itu justru kerap diwarnai eskalasi kekerasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, operasi militer Yahudi Israel terhadap wilayah Palestina maupun negara lain di kawasan Timur Tengah berulang kali terjadi bertepatan dengan Ramadan. Pola ini menimbulkan pertanyaan: kebetulan semata, atau bagian dari strategi militer dan politik yang lebih luas?

Sejumlah analis geopolitik melihat ada korelasi yang sulit diabaikan. Ramadan bukan hanya momentum religius bagi umat Islam, tetapi juga periode mobilisasi massa yang besar, khususnya di Yerusalem.

Ratusan ribu umat Muslim biasanya memadati kawasan Masjid Al-Aqsa untuk melaksanakan ibadah. Kerumunan besar itu membuat situasi keamanan menjadi sangat sensitif.

Sedikit gesekan saja dapat memicu bentrokan. Pembatasan akses, operasi keamanan, atau patroli militer sering memancing kemarahan warga Palestina yang merasa hak beribadah mereka dibatasi.

Yerusalem, terutama kompleks Al-Aqsa, memang bukan sekadar situs ibadah. Kawasan itu adalah simbol religius sekaligus pusat perebutan legitimasi politik.

Bagi umat Islam, Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Sementara bagi Yahudi Israel, Yerusalem memiliki arti historis dan strategis yang menjadi bagian dari identitas nasional mereka.

Ketegangan inilah yang membuat setiap tindakan keamanan di sekitar Al-Aqsa berpotensi berubah menjadi konflik terbuka.

Selain faktor religius dan politik, sejumlah pengamat militer menyebut adanya faktor “psychological timing.” Dalam strategi perang modern, waktu operasi sering dipilih untuk memberikan tekanan psikologis terhadap lawan.

Serangan yang terjadi pada bulan suci umat Islam dapat memicu reaksi emosional yang lebih besar, tidak hanya di Palestina tetapi juga di dunia Muslim secara luas.

Efeknya bukan hanya militer, tetapi juga propaganda dan tekanan diplomatik di tingkat global.

Pola eskalasi ini terlihat dalam sejumlah peristiwa besar beberapa tahun terakhir.

Pada Maret 2025, misalnya, operasi militer besar di Jalur Gaza menewaskan lebih dari 330 orang dan melukai ratusan lainnya. Serangan itu terjadi di tengah suasana Ramadan.

Dalam periode yang sama, berbagai operasi militer lainnya dilaporkan menewaskan lebih dari seratus warga sipil di wilayah Gaza.

Setahun sebelumnya, pada awal Ramadan 2024, serangan udara Israel juga menargetkan sejumlah fasilitas bawah tanah di Gaza. Operasi tersebut menewaskan puluhan orang dan melukai lebih dari seratus lainnya.

Ketegangan serupa juga tercatat pada April 2023. Aparat keamanan Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa pada malam hari menggunakan granat kejut dan gas air mata.

Insiden itu memicu bentrokan besar dan menyebabkan puluhan orang terluka serta ratusan warga Palestina ditangkap.

Pada April 2022, bentrokan kembali terjadi di kawasan yang sama. Sedikitnya puluhan orang mengalami luka-luka akibat aksi saling serang antara aparat dan warga Palestina.

Konflik saat Ramadan bukan fenomena baru. Pada Mei 2021, kerusuhan di kompleks Al-Aqsa menjadi salah satu pemicu meningkatnya konflik bersenjata antara Israel dan kelompok Hamas di Jalur Gaza.

Perang Gaza yang dikenal sebagai Operasi Protective Edge pada 2014 juga berlangsung saat Ramadan. Operasi militer intensif itu menyebabkan ribuan korban, termasuk banyak warga sipil dan anak-anak.

Lebih jauh lagi, pada Ramadan 2002, pasukan Israel melancarkan operasi militer besar di sejumlah kota Palestina di Tepi Barat seperti Jenin, Nablus, dan Bethlehem.

Rangkaian operasi itu menimbulkan korban jiwa dan memperdalam luka konflik yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Bagi sebagian analis, kemunculan konflik saat Ramadan bukan kebetulan. Momentum religius, mobilisasi massa, dan dinamika politik regional menciptakan kondisi yang mudah meledak.

Namun sebagian lainnya menilai pola tersebut lebih merupakan dampak dari konflik yang memang tak pernah benar-benar berhenti di kawasan itu.

Terlepas dari perdebatan itu, satu fakta tetap jelas: setiap kali Ramadan tiba, bayang-bayang konflik kembali menghantui Timur Tengah.

Di tengah umat Muslim yang berusaha menjalankan ibadah dengan khusyuk, dentuman senjata dan sirene perang masih terus terdengar di langit Gaza dan Yerusalem. (*)

Penulis: A1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *