Sudan, “Hard To Life And Hard To Leave”

  • Bagikan

Dimas Muhammad Hanief Arkaan (Dok. pribadi)

Oleh Dimas Muhammad Hanief Arkaan*

Jakarta, Asatu Online – Sebuah status Whatsapp yang ditulis oleh salah seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Sudan baru-baru ini mengatakan, “Kami tidak menyerah. Kami cuma dipaksa mundur sejenak oleh keadaan. Lekas membaik Sudan!”.

Kata-kata tersebut mengungkapkan curahan isi hati yang menggambarkan hidup di Sudan sangat sulit. Cuaca di sana sangat panas, harga kebutuhan sehari-hari mahal, dan kepengurusan administrasi baik di Kampus ataupun di Kantor Imigrasi benar-benar membutuhkan kesabaran. Paling akhir, di Sudan tengah terjadi konflik politik yang berujung konflik bersenjata.

Namun Sudan sangat sulit untuk ditinggalkan. Mulai dari kenangan baik yang berkesan ataupun kenangan kurang mengenakkan yang melukiskan perjuangan menjadi mahasiswa yang belajar di negara itu.

Terkait dengan Sudan, kiranya tepat adagium yang menyebutkan “hard to life and hard to leave” yang maknanya bahwa sulit untuk hidup di Sudan, tetapi negeri itu sulit untuk ditinggalkan.

Mungkin tak banyak orang Indonesia yang mengenal Sudan. Namun mereka yang tahu atau pernah hidup atau melanjutkan studi di negara itu umumnya memberikan kesan dan penilaian yang sangat berharga.

Bahkan ada ungkapan yang menarik dan sangat terkenal di kalangan mahasiswa yang belajar di negara yang terletak di timur laut benua Afrika itu, yakni “Siapa yang bisa hidup di Sudan, maka bisa hidup di manapun”.

Di sisi lain, banyak orang yang mengenal Sudan dari sisi minusnya, seperti sering terjadinya konflik, kudeta, keadaan cuacanya yang sangat panas ataupun dingin, atau mungkin yang agak enak didengar adalah bahwa salah satu syaikh Sudan yang sangat masyhur di Indonesia adalah Syaikh Syurkati.

Sudan atau nama resminya Jumhuriyah as-Sudan atau Republic of Sudan adalah negara bekas jajahan Inggris yang merdeka pada 1 Januari 1956. Negara itu berada di wilayah timur laut benua Afrika dan terletak di antara 4 derajat dan 23 derajat lintang utara serta 22 derajat dan 38 derajat bujur timur.

Negara itu berbatasan dengan Mesir di utara, Laut Merah di timur laut, Eritrea di timur, Ethiopia di tenggara, Afrika Tengah di barat daya, Chad di barat, Libya di barat laut, dan Sudan Selatan di selatan.

Hubungan erat Sudan-Indonesia

Sudan sendiri adalah salah satu negara di Afrika yang mempunyai hubungan erat dengan Indonesia. Sudan adalah negara pertama yang merdeka setelah Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselengggarakan di Bandung tahun 1955.

Di sisi lain, Indonesia adalah negara yang termasuk pertama mengakui keberadaan Sudan setelah penyelenggaraan KAA, dan Presiden Soekarno banyak terinspirasi oleh kiprah dan ketokohan ulama besar Sudan, Syaikh Syurkati

Maka, tak heran orang-orang Sudan mempunyai kesan yang baik terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Sudan, dan keberadaan orang-orang Indonesia diterima dengan baik di negara itu.

Khusus dilihat dari sisi pariwisata, Sudan memiliki beberapa destinasi wisata yang sangat disukai WNI, seperti tempat pertemuan dua Sungai Nil, dan beberapa “tempat nongkrong” di sekitaran Sungai Nil memiliki pemandangan yang sangat indah. Port Sudan pun sangat menawan untuk dikunjungi.

Selain itu, situs sejarahnya terhitung banyak seperti Shendi (tempat yang banyak piramidanya). Di sana berjejeran piramida yang konon jumlahnya lebih banyak di bandingkan yang ada di Mesir. Sudan juga menjadi destinasi wisata keilmuan bagi para mahasiswa Indonesia, suatu hal yang sangat menakjubkan.

Negara yang mungkin dikatakan biasa dari sisi kemajuan dibanding Indonesia misalnya, namun ternyata bisa memberikan beasiswa yang jumlahnya tidak satu dua, tetapi ratusan, diiringi dengan keikhlasan syaikh-syaikh dalam mengajar, membimbing, dan memberikan wejangan yang sangat menyentuh hati.

Hal-hal inilah yang membuat mahasiswa Indonesia bersyukur dan berterimakasih atas kebaikan-kebaikan Sudan yang karenanya juga memberikan kesan yang indah di dalam benak mahasiswa Indonesia.

Bahkan, selalu banyak tangisan jika ada dari mahasiswa Indonesia yang ingin pulang karena sudah selesai studinya, dan biasanya mereka yang kembali ke Tanah Air memiliki kisah yang berkesan tentang Sudan.

Demikianlah Sudan, negara yang menjadi tempat saya dan teman-teman lainnya menimba Ilmu. Mungkin saat ini Allah mentakdirkan WNI yang ada di Sudan untuk dievakuasi dan kembali ke Indonesia karena adanya konflik bersenjata.

Saat ini cukuplah materi utamanya adalah sabar dengan apa yang terjadi serta terus saling mendoakan untuk kebaikan negeri Sudan serta untuk keselamatan para guru, teman, dan saudara-saudara di sana. Lekas membaiklah Negeri Sudan…..

*Dimas Muhammad Hanief Arkaan adalah mahasiswa Indonesia yang baru dievakuasi dari Sudan. Dimas tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Syariah Wal Qonun, International University of Africa. (**)

Loading

Penulis: red
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *