Taliban Gerakan Nasionalis Atau Teroris ?

  • Bagikan

Jakarta, Asatu Online – Dalam pandangan publik masih banyak terjadi simpang siur tentang gerakan Taliban di Afganistan. Ada yang berpendapat bahwa Taliban adalah gerakan Nasionalis tapi banyak juga yang berpendapat bahwa Taliban adalah Gerakan teroris.

KH. As’ad Said Ali menjelaskan seperti halnya Mujahidin Afganistan, Taliban adalah kaum nasionalis dan pejuang yang heroik. Mujahidin dengan bantuan AS/ Negara – negara anti komunis berhasil mengusir Soviet setelah berperang selama 10 tahun dan kemudian mendirikan Republik Islam Afganistan ( RIA ) 1991- 1996. Sayang, selama RIA yang memerintah secara demokratis terjadi rebutan kekuasaan antara 7 fraksi Mujahidin, korupsi, kekacauan sehingga para warlord berkuasa sewenang wenang.

“Ditengah suasana kacau itulah muncul TALIBAN pada 1994 yang didirikan oleh Mullah Umar, ulama lokal di Kandahar. Ceritanya bermula ketika Mullah Umar mendapat laporan dari seorang anggota jamaah pengajiannya tentamg anak perempuannya yang diculik dan diperkosa oleh penguasa. Kejadian seperti lumrah akibat terjadinya salah urus sehingga yang berkuasa adalah para warlord. Mullah Umar dengan sembilan muridnya membebaskan korban tersebut. Namanya populer dan kemudian didaulat memimpin organisasi baru untuk menggantikan Mujahidin yang diberi nama Taliban,”jelas mantan Wakabin ini, Minggu, (23/1).

Ia melanjutkan, Taliban terdiri dari generasi kedua Mujahidin, umumnya terdiri anak anak pejuang Mujahidin yang mengungsi dan sekolah di madrasah disepanjang perbatasan Pakistan – Afganistan. Dalam situasi perang ,mereka sejak muda dijejali dengan ideologi jihad ( perang ). Hanya dalam masa 2 tahun, Taliban menjadi besar dan berhasil merebut pemerintah demokratis yang korup.

Sisa sisa kekuatan Mujahidin bertahan di propinsi yang berbatasan Uzbekistan, Turkmenistan dan Tajikistan dan disebut Koalisi Utara. Selama berkuasa Taliban mampu menegakkan stabilitas keamanan dan bersih dari korupsi, tetapi memerintah dengan menerapkan hukum Islam secara ketat termasuk perlakuan terhadap wanita. Taliban mengganti nama negara menjadi Imarat Islam Afganistan ( IIA )

Seperti halnya pemerintah Mujahidin ( era Pres Burhanuddin Rabbani ) yang menampung Osama bin Ladin sejak maret 1996, Mullah Omar meneruskan kebijakan tersebut. Keduanya tidak sadar bahwa Osama Bin Laden secara diam diam sedang menyusun gerakan teror internasional melawan AS / Barat ( Al Qaeda ). Dari Afganistan itulah Al Qaeda meledakkan kedubes AS di Kenya, Tanzania dan sejumlah sinagoge di Turki dan sasaran lainnya tanpa terditeksi.

Setelah ledakan menara kembar WTC pada 2001 baru diketahui bahwa pelakunya adalah Al Qaeda dan AS meminta pemerintah Taliban menyerahkan Osama Bin Laden. Tetapi Mullah Umar berkilah bahwa Osama Bin Laden adalah tamu dan sekaligus teman perjuangan melawan Komunis dan hanya bersedia menyerahkannya kalau terbukti bersalah oleh pengadilan. Kedua pihak sepakat untuk mengadili Osama BIn Laden di Pakistan, sayang Pakistan menolak karena mengandung resiko politik dan keamanan yang besar.

“Akibatnya pasukan multinasional yang dipimpn AS menyerbu Afganistan dan melibatkan Koalisi Utara. Terjadi pertempuran hebat dan Taliban kehilangan kekuasaan dan RIA berkuasa kembali dari 2001 sampai 2021. Taliban menjalankan taktik perang gerilya dan akhirnya berkuasa kembali pada 28 Agustus 2021 setelah melalui proses perundingan di Doha dengan AS dan diakhiri penyerbuan ke Afganistan tanpa perlawanan berarti dari RIA,” pungkas, KH As’ad Said Ali. Bersambung… (Wahyu).

Loading

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *