Depok, Asatu Online – Anggota DPRD Kota Depok yang juga ketua PSI, Binton J Nadapdap, melontarkan protes keras soal Tempat Penampungan Sampah (TPS) di Jalan Sadewa, Sukmajaya. Persoalan sampah yang bau menyengat, berbelatung, dan berada persis menempel tembok rumah ibadah itu ia sampaikan langsung dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Depok Masa Sidang Ketiga Tahun 2026, di hadapan Wali Kota Depok, Ketua DPRD Ade Supriyatna dan Anggota DPRD Kota Depok lainnya. Kamis, (17/9/2026).
Binton tegas mengatakan, TPS tersebut berada di tengah lingkungan yang padat penduduk dan di sekitarnya ada tiga rumah ibadah diantaranya Gereja Methodist, Gereja Kristen Jawa (GKJ), dan Gereja Katolik Santo Matius.
“Ini perlu menjafi perhatian, adanya bau busuk sangat menyengat sekali, ditambah adanya belatung yang bersarang dan berserakan di sekitar wilayah Gereja Methodist. Gereja Jawa dan Gereja Katolik di sekitarnya juga merasakan bau busuk tersebut. Ini harus segera diambil solusinya segera dan tak bisa diremehkan,” tegas Binton.
Binton menerima langsung aduan dari tokoh masyarakat dan pengurus PSI. Binton turun langsung ke lokasi meski wilayah tersebut bukan Dapilnya (Binton dari Dapil Beji-Cinere-Limo).
Dari hasil tinjauannya, ia menemukan kondisi yang sangat tidak layak:
1. Akses Jalan Tertutup Truk dan Gerobak: Truk sampah parkir memakan separuh badan jalan. Saat mengambil sampah, truk harus mundur hingga masuk ke area gereja. Sementara ratusan gerobak sampah antri mendorong, sehingga warga yang akan lewat tidak bisa melintas.
2. Sampah tercecer ke Kali: TPS yang berada di dekat jembatan kali membuat sampah jatuh dan mencemari aliran kali. Saat hujan, lendir dan air sampah meluber kemana-mana
3. Kapasitas Tidak Memadai: Luas TPS hanya sekitar 200-300 meter persegi, tidak sebanding dengan padatnya populasi dan hanya 2 truk per hari yang beroperasi, sehingga sampah selalu bersisa, membusuk, dan menimbulkan bau.
“Saya ketemu Romo dari Gereja Katolik. Dia bilang perutnya sudah mual karena bau yang sangat menyengat. Jemaat kalau kebaktian di hari Minggu harus pakai masker. Ini bukan soal bau saja, ini soal kesehatan dan dampaknya tidak hari ini, tapi 5-10 tahun ke depan paru-paru, pernapasan, apalagi untuk anak-anak. Air tanah pasti tercemar,”tegas Binton.
Binton yang juga sebagai Penasehat Forum Komunikasi Umat Kristiani Kota Depok dan Majelis Pekerja Sinode HKBP menegaskan, isu ini bukan soal agama tertentu, karena mayoritas warga sekitar adalah muslim yang juga terdampak.
Ia mendorong dua solusi konkret:
Solusi pertamà : Tambahkan armada pengangkutan dari 2 menjadi 4 truk sekaligus per hari agar TPS benar-benar bersih tanpa sisa, lalu langsung disiram dan disemprot disinfektan.
Solusi ke dua : Relokasi TPS segera. Pemerintah Kota Depok diminta mencari lahan baru seluas 200-300 meter di wilayah Sukmajaya yang agak di pinggiran dan jauh dari permukiman padat serta rumah ibadah. Lahan TPS lama bisa dikembalikan fungsinya menjadi taman atau Fasos Fasum perumahan.
“Kecamatan Sukmajaya itu luas. Masa tidak ada lahan 200 meter untuk TPS yang layak? Di APBD Perubahan 2026 ini anggarannya sangat signifikan besar. Berapa sih harga lahan 300 meter? Tidak mahal untuk kesehatan warga,” katanya.
Binton juga mengingatkan janji Wali Kota saat kampanye yang pernah disampaikan warga, akan segera memindahkan TPS tersebut.
“Sebagai Kota Depok yang majemuk, jangan sampai orang berpikir kalau gereja tidak dapat perhatian. Paradigma masyarakat Depok sudah berubah. Mari kita jaga kesehatan dengan menjaga kebersihan lingkungan. Sampah adalah persoalan paling pelik di Depok dan ini harus jadi prioritas,” pungkas Ketua DPD PSI Kota Depok.
Laporan : Johanes
















