Babel  

Nasib Della Direktur RSUD Pangkalpinang di Ujung Tanduk

Caption : dr Della Rianadita Direktur RSUD Kota Pangkalpinang (Foto : net)

Pangkalpinang, Asatu Online — Posisi Direktur RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, dr Della Rianadita, kini berada di ujung tanduk. Pasca insiden digerebek bersama pria lain di dalam ruangan terkunci di lingkungan RSUD, nasib dr Della dinilai berpotensi berujung sama seperti Efran, mantan Kasatpol PP Kota Pangkalpinang yang sebelumnya dinonaktifkan akibat skandal etik.

Sorotan publik kian menguat setelah Pemerintah Kota Pangkalpinang memastikan akan mengambil langkah konkret dengan membentuk tim internal untuk menangani kasus yang menghebohkan tersebut.

Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang, Mie Go, mengungkapkan bahwa Pemkot akan segera melakukan pemanggilan terhadap sejumlah pejabat terkait guna mendalami kasus Direktur RSUD Pangkalpinang.

“Memang saya belum menerima laporan resmi berkenaan dengan hal tersebut, namun saya sudah mengetahui dari pemberitaan media,” ujar Mie Go saat dikonfirmasi Asatu Online, Minggu (25/1/2026).

Ia menjelaskan, sesuai arahan Wali Kota Pangkalpinang, Pemkot akan membentuk tim internal untuk melakukan klarifikasi langsung kepada pihak yang bersangkutan.

“Sesuai arahan Pak Wali, kami akan membentuk tim internal untuk melakukan konfirmasi kepada yang bersangkutan. Besok hari Senin, saya akan memanggil Plt Asisten Administrasi Umum, Kepala BPSDMD, Inspektur, dan Plt Kepala Dinas Kesehatan,” jelasnya.

Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Pemkot Pangkalpinang tidak menutup mata terhadap insiden yang menyeret pejabat strategis di sektor pelayanan publik.

Sebelumnya, publik Pangkalpinang diguncang insiden dugaan pelanggaran etik yang melibatkan dr Della Rianadita. Ia digerebek oleh suaminya sendiri, dr KBA, di dalam sebuah ruangan kantor RSUD yang terkunci dari dalam bersama seorang pria berinisial S, yang disebut-sebut sebagai oknum kontraktor.

Peristiwa yang terjadi pada Kamis sore (22/1/2026) itu memicu keributan terbuka di lingkungan RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang. Adu mulut dilaporkan terjadi tidak hanya di dalam ruangan, tetapi meluber hingga ke luar dan disaksikan pegawai, pasien, serta pengunjung rumah sakit.

Insiden tersebut langsung memantik spekulasi luas di tengah masyarakat. Publik mempertanyakan hubungan sebenarnya antara Direktur RSUD dengan pria berinisial S, sekaligus menyoroti potensi konflik kepentingan dan pelanggaran etika jabatan.

Wartawan senior Kepulauan Bangka Belitung, Suherman Saleh atau Bang Herman, menilai kasus ini tidak bisa dipandang sebagai persoalan pribadi semata.

“Yang terlibat adalah pejabat publik, tempat kejadiannya fasilitas negara, dan dampaknya langsung ke kepercayaan masyarakat. Kalau ini dibiarkan, akan jadi preseden buruk,” tegas Bang Herman.

Ia juga mengaitkan kasus ini dengan skandal sebelumnya yang menyeret Kasatpol PP Pangkalpinang Efran, yang akhirnya dinonaktifkan oleh Wali Kota setelah kegaduhan publik akibat persoalan etik.

“Jangan sampai publik melihat ada standar ganda. Jika satu pejabat dinonaktifkan karena masalah etika, maka kasus lain juga harus diperlakukan secara adil dan transparan,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, dr Della Rianadita belum memberikan klarifikasi resmi, begitu pula pria berinisial S maupun dr KBA. Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang juga belum menyampaikan pernyataan terbuka.

Sementara itu, Wali Kota Pangkalpinang Prof Saparudin sebelumnya mengaku belum menerima laporan resmi terkait insiden tersebut.

Kini, perhatian publik tertuju pada hasil kerja tim internal Pemkot Pangkalpinang. Apakah kasus ini akan berujung pada sanksi administratif, penonaktifan sementara, atau langkah lain demi menjaga marwah pemerintahan dan pelayanan kesehatan publik.

Redaksi Asatu Online akan terus menelusuri perkembangan kasus ini, mengupayakan konfirmasi lanjutan, dan menyajikan informasi secara berimbang sesuai prinsip serta kode etik jurnalistik. (Yn)

Penulis: Yn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *