17 Karyawan PT TIMAH Luncurkan Buku SELARAS, Rekam Jejak Pemulihan Alam Pascatambang di Bangka

BANGKA, Asatu Online – Upaya reklamasi yang dilakukan PT TIMAH Tbk selama bertahun-tahun di wilayah operasional perusahaan kini tidak hanya terlihat dari lahan pascatambang yang kembali hijau dan produktif. Jejak pemulihan lingkungan tersebut juga diabadikan dalam sebuah karya literasi yang sarat pengalaman, pembelajaran, dan inspirasi.

Sebanyak 17 karyawan PT TIMAH meluncurkan buku berjudul SELARAS: Harmoni Reklamasi PT TIMAH di Bumi Utara Bangka yang diterbitkan oleh IPB Press. Peluncuran buku berlangsung di Kebun Agro Area Bangka Utara, Desa Batu Rusa, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka.

Buku ini menjadi wujud komitmen PT TIMAH dalam mendokumentasikan praktik reklamasi sekaligus memperluas edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemulihan lingkungan sebagai bagian dari aktivitas pertambangan yang berkelanjutan.

SELARAS menghadirkan beragam kisah dan pengalaman para pelaku reklamasi yang terlibat langsung di lapangan. Mulai dari proses menghidupkan kembali lahan bekas tambang, tantangan teknis yang dihadapi, hingga berbagai inovasi yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan pascatambang.

Melalui tulisan-tulisan yang disusun dalam format antologi, para penulis mengajak pembaca melihat reklamasi dari perspektif yang lebih dekat dan humanis. Tidak hanya berbicara soal pemulihan lingkungan, buku ini juga mengangkat nilai kolaborasi, harapan, dedikasi, serta komitmen menjaga keberlanjutan alam bagi generasi mendatang.

Department Head Corporate Communication PT TIMAH, Anggi Siahaan, mengatakan penerbitan buku ini merupakan upaya perusahaan dalam mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman yang selama ini diperoleh dalam menjalankan program reklamasi.

Menurutnya, buku SELARAS menjadi bukti bahwa reklamasi bukan sekadar kewajiban perusahaan, melainkan proses panjang yang melibatkan dedikasi, inovasi, dan kerja sama banyak pihak.

“Buku ini menjadi bukti bahwa reklamasi bukan hanya program perusahaan, tetapi sebuah proses panjang yang melibatkan dedikasi, inovasi, dan kolaborasi banyak pihak. Melalui tulisan para karyawan yang terlibat langsung di lapangan, masyarakat dapat melihat bagaimana upaya pemulihan lingkungan dilakukan secara nyata dan berkelanjutan,” kata Anggi.

Ia menambahkan, buku tersebut juga menjadi sarana transfer pengetahuan agar pengalaman dan pembelajaran yang telah diperoleh selama proses reklamasi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kami berharap buku ini dapat menjadi referensi sekaligus memperkuat pemahaman publik bahwa kegiatan pertambangan yang baik harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga dan memulihkan lingkungan,” ujarnya.

Salah satu penulis, Tofan Randy Wijaya, menjelaskan bahwa SELARAS sengaja disusun dengan pendekatan yang ringan dan komunikatif agar mudah dipahami berbagai kalangan.

“SELARAS bukan buku laporan perusahaan. Kami ingin menghadirkan cerita yang dekat dengan pembaca sehingga siapa pun dapat memahami proses reklamasi dari sudut pandang para pelaku di lapangan,” katanya.

Menurut Tofan, dokumentasi pengalaman menjadi sangat penting di tengah dinamika organisasi yang terus berkembang. Dengan adanya buku ini, berbagai praktik baik dan pembelajaran dari lapangan dapat terus menjadi referensi bagi generasi penerus.

Senada, Muhammad Romainoor menuturkan keberhasilan reklamasi tidak terlepas dari kerja sama tim yang solid. Setiap lokasi reklamasi memiliki tantangan yang berbeda sehingga membutuhkan sinergi berbagai pihak untuk mencapai target pemulihan lingkungan.

Menariknya, buku SELARAS tidak hanya mengangkat kisah reklamasi darat, tetapi juga merekam upaya pemulihan ekosistem laut. Salah satu penulis, Rahmat Wijaya, membagikan pengalamannya dalam pemantauan bawah laut dan berbagai program konservasi yang dijalankan perusahaan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan.

Melalui buku SELARAS, para penulis berharap pengalaman, inovasi, dan praktik baik yang telah dilakukan selama proses reklamasi dapat memperkaya literasi lingkungan, menjadi sumber pembelajaran, serta memperkuat pemahaman masyarakat bahwa reklamasi merupakan bagian penting dari pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *