Gubuk Lapuk, Nenek Menih (75) Kampung Sukaduri, Dusun 3, RT 003/RW 08, Desa Samudera Jaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. (Foto : Asatu Online)
Bekasi, Asatu Online — Di usia senja yang seharusnya diisi dengan ketenangan dan perhatian keluarga, Nenek Menih (75) justru harus berjuang menjalani kehidupan dalam kondisi serba terbatas. Tinggal seorang diri di sebuah gubuk sederhana yang jauh dari kata layak huni, ia bertahan di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan yang memprihatinkan.
Nenek Menih merupakan warga Kampung Sukaduri, Dusun 3, RT 003/RW 08, Desa Samudera Jaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.
Tempat tinggalnya hanya berupa bangunan sederhana berdinding kayu lapuk yang menempel pada tembok rumah salah satu anaknya. Lantainya masih berupa tanah, sedangkan bagian atap hanya ditutupi terpal yang bocor ketika hujan turun.
Kondisi tersebut semakin memilukan lantaran Nenek Menih saat ini tengah mengalami sakit. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya belum mampu mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan medis secara memadai. Untuk meredakan keluhan kesehatannya, ia hanya mengandalkan obat-obatan yang dibeli dari warung.
Rohamah (65), warga setempat, mengungkapkan bahwa Nenek Menih sudah cukup lama menjalani kehidupan seorang diri di gubuk sederhana tersebut.
“Memang Nenek Menih tinggal sendirian di dalam gubuk yang hanya berdinding kayu. Kondisinya sangat memprihatinkan, terlebih sekarang beliau sedang sakit,” ungkap Rohamah kepada awak media, Selasa (3/11/2026).
Menurut Rohamah, selama mengalami sakit, Nenek Menih hanya mengonsumsi obat-obatan dari warung dan belum mendapatkan pemeriksaan kesehatan di klinik maupun puskesmas terdekat.
Kondisi ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri. Di tengah berbagai program pemerintah terkait pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, masih terdapat warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian mendasar, mulai dari tempat tinggal layak hingga akses pelayanan kesehatan.
Persoalan yang dihadapi Nenek Menih bukan sekadar kondisi rumah yang memprihatinkan. Dinding kayu lapuk, lantai tanah, atap terpal yang bocor, hingga tidak tersedianya fasilitas listrik dan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) yang layak menjadi gambaran nyata keterbatasan hidup yang harus dijalaninya setiap hari.
Ironisnya, dalam kondisi usia yang sudah menginjak 75 tahun dan sedang sakit, ia masih harus menghadapi berbagai persoalan tersebut tanpa pendampingan dan pelayanan kesehatan yang memadai.
Warga Kampung Sukaduri berharap Pemerintah Desa Samudera Jaya, Pemerintah Kecamatan Tarumajaya, Dinas Sosial Kabupaten Bekasi, serta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) segera turun langsung untuk melihat dan memastikan kondisi Nenek Menih.
Masyarakat juga meminta agar dilakukan verifikasi kondisi sosial dan ekonomi, termasuk memastikan apakah Nenek Menih telah terdata sebagai warga yang berhak menerima bantuan sosial pemerintah.
Adapun sejumlah kebutuhan mendesak yang diharapkan dapat segera ditangani meliputi:
1. Program bedah rumah (RTLH) untuk menyediakan tempat tinggal yang aman dan layak.
2. Bantuan pangan dan sembako rutin guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3. Pemeriksaan dan pelayanan kesehatan gratis bagi Nenek Menih sebagai warga lanjut usia.
4. Pendataan dan verifikasi bantuan sosial, termasuk kelayakan sebagai penerima PKH maupun BPNT sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi warga, kepedulian terhadap Nenek Menih bukan semata-mata persoalan bantuan materi. Lebih dari itu, ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan kemanusiaan terhadap seorang lansia yang membutuhkan perlindungan, perhatian, serta hak untuk hidup secara layak.
Kondisi Nenek Menih sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan program kesejahteraan masyarakat harus dapat dirasakan hingga ke tingkat paling bawah, terutama oleh warga lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan.
Di balik gubuk lapuk yang menjadi tempatnya berteduh, masih tersimpan harapan sederhana: memiliki rumah yang layak, mendapatkan pengobatan ketika sakit, serta menjalani hari tua dengan lebih aman dan manusiawi.
Kini, perhatian publik tertuju kepada pemerintah desa, pemerintah daerah, Dinas Sosial, Baznas, dan pihak-pihak yang memiliki kepedulian sosial. Jangan sampai kondisi Nenek Menih hanya menjadi kisah keprihatinan yang berlalu tanpa penanganan nyata. (*)















