Tarmizi A. Hamid Ungkit Perjuangan KWPSI dan Ulama di Balik Konversi Bank Aceh ke Syariah

Banda Aceh, Asatu Online — Perjuangan mengubah Bank Aceh dari sistem konvensional menjadi bank syariah tak lepas dari peran wartawan dan ulama. Perwakilan Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Tarmizi A. Hamid, mengingatkan agar kontribusi mereka tidak dilupakan. Pesan itu disampaikan dalam seminar dan peluncuran buku *Jalan Terjal Menghapus Riba: Advokasi Jurnalis dalam Konversi Bank Aceh* yang digelar Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Jumat (23/10/2026).

Pesan itu mengemuka dalam seminar *Coffee Morning & Launching Buku* yang digelar Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) di Banda Aceh, Jumat (23/10/2026).

Seminar tersebut membahas aspek hukum perbankan syariah sekaligus menelusuri sejarah konversi Bank Aceh dari sistem konvensional menuju sistem syariah. Kegiatan ini diikuti mahasiswa dan insan pers.

Sejumlah narasumber hadir, di antaranya anggota DPR RI M. Nasir Djamil, Dedi dari kalangan perbankan, serta Yusrizal dan Tarmizi A. Hamid dari kalangan pers.

Anggota DPR RI M. Nasir Djamil mengingatkan bahwa Bank Aceh bukan semata-mata milik pemerintah, melainkan milik seluruh rakyat Aceh.

Menurutnya, masyarakat memiliki kepentingan besar terhadap keberlangsungan dan tata kelola bank daerah tersebut karena dana yang dikelola juga berasal dari uang rakyat.

“Kalau ada oknum yang bermain korupsi, mari kita kawal bersama-sama,” tegas Nasir.

Ia menilai pengawasan publik menjadi penting agar Bank Aceh benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan justru menjadi ruang bagi kepentingan segelintir pihak.

Nasir juga menyoroti perhatian pihak luar terhadap penerapan sistem perbankan syariah di Aceh. Menurutnya, keberhasilan sistem tersebut harus diukur dari dampaknya terhadap kesejahteraan rakyat, bukan sebatas perubahan sistem atau label syariah.

Ia mengingatkan agar penerapan syariah tidak berhenti pada formalitas, tetapi benar-benar tercermin dalam kebijakan dan praktik perbankan.

Tarmizi: Perjuangan Wartawan dan Ulama Tak Boleh Dilupakan

Perwakilan insan pers sekaligus Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Tarmizi A. Hamid, menegaskan bahwa perjalanan konversi Bank Aceh ke sistem syariah tidak berlangsung mudah.

Ia mengenang keterlibatan wartawan, jurnalis, dan ulama yang berjuang agar praktik perbankan di Aceh sejalan dengan penerapan syariat Islam, termasuk upaya menghindari praktik riba.

“Waktu itu perjuangannya sangat berat. Wartawan dan ulama terus memikirkan bagaimana perbankan di Aceh bisa menerapkan sistem syariah. Ada pro dan kontra di kalangan penguasa, tetapi perjuangan tetap berjalan,” ujar Tarmizi.

Menurutnya, berbagai upaya dilakukan untuk mendorong perubahan tersebut hingga Bank Aceh akhirnya beralih ke sistem perbankan syariah.

Karena itu, Tarmizi mengingatkan agar sejarah tersebut tidak dihapus dari ingatan publik. Perubahan yang kini dinikmati masyarakat, kata dia, merupakan hasil perjuangan banyak pihak, termasuk kalangan pers dan ulama.

Ia juga menyampaikan bahwa KWPSI tidak mengharapkan imbalan khusus dari Bank Aceh. Pihaknya hanya berharap komunikasi dan keterlibatan insan pers tetap terjalin, terutama dalam penyampaian informasi mengenai kegiatan perbankan syariah.

“Kami tidak mengharapkan apa-apa dari Bank Aceh. Kalau ada kegiatan, kami berharap cukup diberi informasi,” katanya.

Tarmizi mengungkapkan, KWPSI telah menghimpun sekitar 40 media. Namun, hingga kini organisasi tersebut belum memiliki kantor sekretariat sendiri.

Kondisi itu disampaikannya sebagai gambaran tantangan yang masih dihadapi komunitas pers yang selama ini turut mengawal isu penerapan syariat Islam di Aceh.

Buku Sejarah Konversi Bank Aceh Diluncurkan

Seminar tersebut juga dirangkai dengan peluncuran dan pemberian buku berjudul *Jalan Terjal Menghapus Riba: Advokasi Jurnalis dalam Konversi Bank Aceh*.

Buku yang dieditori Hasan Basri M. Nur itu mengulas perjalanan advokasi jurnalis dalam mendorong konversi Bank Aceh, dilengkapi pembahasan mengenai konsepsi perbankan syariah.

Melalui buku tersebut, sejarah perjuangan konversi Bank Aceh diharapkan dapat terdokumentasi dan menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda, khususnya mahasiswa dan wartawan.

Diskusi berlangsung hangat dan demokratis. Mahasiswa antusias mengikuti pemaparan materi serta berdialog langsung dengan M. Nasir Djamil.

Penyelenggara berharap mahasiswa dapat menyebarluaskan informasi dan pengetahuan dari seminar tersebut di lingkungan kampus. Sementara insan pers diharapkan terus mengangkat sejarah, perkembangan, serta pelaksanaan prinsip-prinsip perbankan syariah kepada masyarakat luas.(mrw/mn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *