Jakarta, Asatu Online— Menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2026, insan pers kembali menegaskan perannya sebagai penjaga ingatan dan perawat intelektualitas bangsa. Momentum itu ditandai dengan peluncuran enam buku di Ballroom Hotel Aston, Kota Serang, Minggu (8/2/2026), sebagai kado literasi bagi dunia jurnalistik Indonesia.
Dari enam buku yang diluncurkan, dua di antaranya secara khusus mengangkat kearifan lokal Banten, yakni tentang kehidupan Suku Baduy dan kuliner tradisional khas Banten. Karya-karya tersebut menegaskan bahwa jurnalisme tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga merawat identitas dan budaya bangsa.
Adapun enam buku yang diluncurkan dalam rangkaian HPN 2026 tersebut adalah:
1. Langkah Sunyi Menuju Puncak
2. Belajar Mencintai dari Kearifan Baduy
3. Wajah Pers Indonesia Kini dan Esok
4. Melawan ke Talawi, Tapak Langkah Wartawan Adinegoro
5. Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2025
6. Jojorong, Kuliner Tradisional Khas Banten
Peluncuran buku-buku ini membawa pesan kuat bahwa profesi wartawan tidak semata dituntut cepat, tetapi juga mendalam, reflektif, dan bertanggung jawab.
“Panggil Saya Tommy”, Catatan Diplomat dari Seorang Wartawan
Salah satu karya yang paling menyita perhatian adalah buku “Panggil Saya Tommy” karya Suryopratomo, tokoh pers senior yang juga mantan Duta Besar RI untuk Singapura.
Dalam buku tersebut, pria yang akrab disapa Mas Tom membedah pengalamannya selama lima tahun dua bulan menjalankan tugas diplomatik di tengah situasi global yang penuh tantangan, termasuk badai pandemi COVID-19.
Di balik judulnya yang sederhana, tersimpan makna kedekatan dan nilai diplomasi manusiawi.
“Rekan-rekan di Singapura selalu memanggil saya Tommy. Dari situlah judul ini lahir,” ujar Suryopratomo.
Ia menegaskan, buku tersebut merupakan bentuk akuntabilitas pribadi selama menjalankan amanah negara di luar negeri.
“Ketika saya berangkat ke Singapura, situasinya sedang pandemi. Tidak mudah. Buku ini adalah catatan tanggung jawab saya selama bertugas,” ungkapnya.
Buku ini bukan sekadar memoar birokrasi, melainkan rekam jejak seorang wartawan yang tetap setia pada tradisi menulis, meski berganti peran menjadi diplomat.
“Menulis memaksa kita berpikir sistematis dan strategis. Selama menjadi Dubes, saya tidak pernah berhenti menulis, minimal seminggu sekali. Kalau berhenti, akan sulit memulainya lagi,” tegasnya.
Dari Baduy hingga Jejak Adinegoro
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, memberikan apresiasi tinggi atas lahirnya enam karya tersebut. Menurutnya, buku-buku yang diluncurkan mencerminkan spektrum luas dunia pers, mulai dari profesionalisme, sejarah, hingga kearifan lokal.
Peluncuran ini, kata Munir, menjadi pengingat penting bagi insan pers di seluruh Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi instan dan dominasi kecerdasan buatan, kualitas tulisan menjadi benteng terakhir kepercayaan publik.
“Kita menghadapi disrupsi ekonomi dan banjir sumber informasi. Satu-satunya jalan adalah meningkatkan profesionalisme dan kualitas karya melalui literasi yang sistematis,” ujar Suryopratomo menegaskan.
Melalui enam buku ini, PWI menegaskan bahwa wartawan boleh berganti peran—menjadi diplomat, pejabat, atau profesional di bidang lain—namun napas kepenulisan harus tetap hidup sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada bangsa dan sejarah. (*)














