Kader Mathla’ul Anwar Minta Menag Bicara hal Strategis

  • Bagikan
banner 468x60

Kader muda Mathla’ul Anwar, Adi Abdillah Marta (Dok. pribadi)

Pandeglang, Banten, asatuonline.id– Kontroversi ucapan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang beranalogi membandingkan suara azan dengan gonggongan anjing masih mengundang tanggapan dari berbagai pihak, termasuk dari kader muda Ormas Islam Mathla’ul Anwar, Adi Abdillah Marta.

banner 336x280

“Saya yakin Menag berniat baik, tapi keliru menggunakan analogi. Akibatnya muncul kegaduhan. Maka, ke depan sebaiknya Menag berbicara ha-hal yang strategis dan substantif, tentu dengan penuh kehati-hatian karena ucapan pejabat negara pasti menjadi perhatian publik,” kata Adi dalam perbincangan dengan wartawan di Pandeglang, Banten, Sabtu (26/2/2022).

Sebelumnya, dalam penjelasan kepada wartawan di Pekanbaru Riau soal aturan pengeras suara atau toa masjid pada 23 Februari 2022, Menag menyatakan tak melarang rumah ibadah umat Islam untuk menggunakan pengeras suara, tetapi penggunaannya harus diatur agar tidak mengganggu pihak lain yang tidak seagama.

Persoalan muncul ketika Yaqut Cholil Qoumas mengemukakan analogi, membandingkan suara azan dengan gonggongan anjing, sehingga ia dikecam oleh banyak pihak di kalangan Ummat Islam di Tanah Air.

“Contohnya lagi, misalkan tetangga kita kiri kanan depan belakang memelihara anjing. Misalnya semua anjing itu menggonggong di waktu yang bersamaan. Kita terganggu ga? Artinya semua suara harus kita atur agar tidak menjadi gangguan,” katanya.

Di sisi lain, Surat Edaran Menag terkait pengaturan pengeras suara di Masjid dan Mushalla itu sendiri memicu kontroversi karena dinilai banyak pihak mengandung banyak kelemahan dan kekurangan dan substansinya termasuk isu sensitif.

Adi Abdillah Marta lebih lanjut menyarankan agar Menag fokus mengurusi hal – hal yang kongkret serta lebih bersifat strategis dan substantif daripada fokus pada persoalan peraturan pengeras suara adzan yang bersifat teknis.

“Misalnya mengurusi madrasah – madrasah dan guru diniyah yang menjadi wilayah kerja Kemenag serta bagaimana Menag memperkuat regulasi antrian calon jamaah ibadah haji,” kata Wakil Bendahara Umum III Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) yang juga pernah menjadi Bendahara Umum DPP GEMA (Generasi Muda) Mathla’ul Anwar itu.

Terkait ucapan Menag yang kontroversial, Adi Abdillah Marta juga mengharapkan publik untuk menahan diri agar tidak memperkeruh keadaan serta meminta Menag untuk bertabayyun atas apa yang telah diucapkannya..(red)

 245 total views

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.